curhat gading.
Sore ini Gading resah. Entah kenapa. Dan menelpon Dara, sahabatnya sejam lamanya hingga panas kuping tidak menyembuhkan. Mungkin karena Rafi. Ya, Rafi memang sering menjadi tersangka utama keresahan Gading. Kadang karena bayangan Rafi yang muncul dibawa rindu. Atau karena Rafi menghilang diculik kesendirian.
"Mungkin saat ini aku akan menulis surat untuk Rafi," tiba-tiba sebagian dari diri Gading berkata ke sebagian yang lain.
Dan Gading beranjak ke arah komputernya, dan tidak lama kemudian jari-jarinya mulai menari.
Dear Rafi,
Ah, kenapa juga pake 'dear dear' segala. Dan tombol 'delete' ditekannya berulang-ulang, hingga lembaran putih kembali kosong.
Rafi,
Hmm.. lebih baik. Ok, next? Owh.. Gading tidak tahu harus mulai mana. Mulai dari ".. maaf kalau menyita waktumu dengan surat ini." Maaf? Maaf untuk apa? Tidak ada yang perlu dimintakan maaf. Dan tidak ada yang salah, kenapa harus minta maaf?
Sejenak kemudian, tombol 'delete' ditekan kembali lima kali, dan bersih kembali kertas putih. Tiba-tiba Gading merasa tidak ada yang perlu diresahkan. Rafi tidak perlu dikhawatirkan. Senyumnya mengembang mengikuti hatinya yang terlebih dahulu tersenyum.
"Semua baik-baik saja."
Tidak sampai lima menit kertas putih itu sudah terisi. Terisi oleh puisi, puisi riang tentang sebuah kerinduan.
"Mungkin saat ini aku akan menulis surat untuk Rafi," tiba-tiba sebagian dari diri Gading berkata ke sebagian yang lain.
Dan Gading beranjak ke arah komputernya, dan tidak lama kemudian jari-jarinya mulai menari.
Dear Rafi,
Ah, kenapa juga pake 'dear dear' segala. Dan tombol 'delete' ditekannya berulang-ulang, hingga lembaran putih kembali kosong.
Rafi,
Hmm.. lebih baik. Ok, next? Owh.. Gading tidak tahu harus mulai mana. Mulai dari ".. maaf kalau menyita waktumu dengan surat ini." Maaf? Maaf untuk apa? Tidak ada yang perlu dimintakan maaf. Dan tidak ada yang salah, kenapa harus minta maaf?
Sejenak kemudian, tombol 'delete' ditekan kembali lima kali, dan bersih kembali kertas putih. Tiba-tiba Gading merasa tidak ada yang perlu diresahkan. Rafi tidak perlu dikhawatirkan. Senyumnya mengembang mengikuti hatinya yang terlebih dahulu tersenyum.
"Semua baik-baik saja."
Tidak sampai lima menit kertas putih itu sudah terisi. Terisi oleh puisi, puisi riang tentang sebuah kerinduan.

hik hik..
BalasHapus