untukmu, dara.

:: Dara

"Ada apa di balik tirai itu?"

Dara, sebagian dari diriku yang tidak memiliki kesabaran ini terus bertanya. Membuat bosan separuh diriku yang lain. Apa apa yang lainnya bersahutan.

"Apa yang hadir setelah lelah telah sampai pada tetes akhir?"

"Apa yang muncul setelah sabar sudah sampai penghujung?"

Ini bukan sebuah tanya keputusasaan, Dara. Bukan sebuah pernyataan hilang harapan. Bukan karena lelah terus berhenti, dan bukan pula karena habis sabar ada amarah. Ada secercah harapan yang menggerakan hidup ini lebih cepat. Kau tahu pasti, Dara. Keingintahuan selalu ada dalam sebuah gerak maju.

Lelah pertanda kita masih manusia, mahluk yang punya batas. Lelah hadir untuk pembuktian teori alam bahwa kita tidak bisa sendiri. Lelah ada membuktikan kesetiaan sahabat. Kesetiaan diriku padamu, juga dirimu padaku, yang melipur lelah dan lara. Kesetiaan yang selalu membuat kita kuat melangkah.

Di sore itu, Dara, kelelahan dirimu menyadarkan kita berdua. Sabar membuat diri kita terjaga, bahwa kaki ini tengah menapaki ujian. Tanpa tanya pun kita tahu ujian masih mengintip kita dibalik tirai itu. Sabar itu yang membuat senja lelah akan lelap sepanjang malam, dan senyum mentari akan tersungging di pagi yang cerah. Juga hari yang baru.

"Selamat pagi, Dara!"

Mari kita nikmati bersama hari baru ini. Mari kita bersenang hati tidak hanya pada terangnya mentari, tapi temaramnya senja, dan lelapnya malam. Karena tanpa gulita malam, benderang pagi tak kan membuat hati kita tersenyum.

Komentar

Postingan Populer