peta menuju rumah Tera.

:: Dara

Hari ini Dara harus bertemu ayah dan ibu Tera. Tapi sayang sekali Tera tidak bisa menemani Dara. Jadi Dara harus pergi sendiri.

"Ke mana aku harus berjalan dari rumahku ke rumahmu?" tanya Dara pada Tera.

"Sini, kugambarkan peta pada tanganmu," sahut Tera sambil tersenyum nakal.

Tangan kanannya sigap menyambar pena yang berada di meja didekatnya. Tanpa persetujuan lawan bicara, saudara kirinya menyambar tangan kiri Dara.

Tera memang jago membaca dan menciptakan situasi yang dia inginkan. Dara sudah tidak bisa berkutik ketika tangannya sudah ditawan tangan Tera. Dan berjalanlah sang pena dengan petunjuk tangan kanan Tera, meninggalkan jejak tinta di tangan Dara.

"Kamu harus berangkat dulu dari hatimu. Tidak perlu berdandan berlebihan, cukup hanya merapikan diri. Lalu kamu minta ijin dulu dengan bundamu. Kalau boleh tanya juga ayahmu. Kemudian kakak adikmu."

Dara mengernyit keheranan. Tapi Tera tidak ambil pusing. Dilanjutkannya kembali gambaran di tangannya, diiringi ocehannya.

"Nah, setelah itu, kamu akan bertemu sebuah tempat singgah. Isinya sahabat-sahabatku. Bermainlah sebentar dengan mereka. Mereka orang yang sudah aku anggap saudaraku juga. Setelah itu, tanyakan kembali dirimu, apakah kamu benar mau ke rumahku. Kalau benar, kamu bisa menanyakan kembali rumah selanjutnya."

"Ih, dasar orang aneh, nanya rumah aja kaya ikutan rally, pake pos-posan segala. Lagian kenapa ngga sekalian digambar aja di sini, biar jelas jalannya ke mana. Kenapa pake harus tanya-tanya temenmu segala?"

"Ah, udah diem. Jangan banyak bicara dulu," tampang Tera sok serius. "Di situ banyak banget gang kecilnya. Repot kalo digambar semua. Biar jelas, tanya aja sama mereka. Sukur-sukur ada yang mau nganter."

Dara sudah tidak bisa berkutik lagi. Mendesah sejenak. Pasrah.

"Nah, nanti di pengkolan ini, belok kanan." Tera membuat penanda di tangan Dara. "Cari rumah ketiga dari pengkolan. Pagar putih, rumah bercat putih, dan kayu berplitur."

"Ya ya ya. Nunjukkin ini repot amat. Terus?" Dara tidak sabar.

"Tunggu, itu rumah orang tuaku, bukan rumahku. Rumahku adalah salah satu ruang di rumah itu. Bel aja. Paling adikku yang membukakan. Kalau dia suka, dia langsung mengijinkanmu masuk. Kalau tidak suka, paling kamu dikerjain dulu," kembali matanya mengerling nakal. "Tapi tenang, sepertinya sih kamu tidak seperti pacarku dulu. Jadi kemungkinan besar aman."

Dara tersenyum.

"Nah, ini yang terakhir. Ayah Ibu pasti bertanya ini itu dulu. Jawab dulu. Ya, just be yourself. Kalau sudah oke, barulah kamu sampai pada rumahku."

Wah, ujian panjang sebelum masuk ke rumah Tera. Rumah di mana hati Tera tinggal tepatnya.

Komentar

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer