menjadi obor.
Baru aja mau tidur, dan membaca twitter Goenawan Muhammad :
Iman bg Gus Dur bukanlah benteng: kukuh, tertutup utk menolak yg di luar. Iman baginya ibarat obor, dgn apa kita berani ke luar, menjelajah.
Hoho, kok seperti berjodoh dengan beberapa percakapan kemarin ya? Jadi semakin sadar, kalau kita terlalu sering diajarkan untuk membentengi diri dari dunia luar. Membentengi hati dan rasa untuk berkembang. Benteng yang bikin kita selalu dalam posisi bertahan dan mengurung diri dari dunia yang warna-warni dan dinamis. Bangunan besar yang kadang-kadang bikin kita ngga menghargai orang lain yang punya pemikiran berbeda.
Semua orang tahu, rasa takut bisa jadi salah satu penggerak dalam hidup. Takut miskin, takut hidup ngga nyaman, dan ketakutan-ketakutan yang lain. Hidup dari ketakutan cuma bikin benteng yang kita punya semakin tebal. Dan hidup dari ketakutan, ngga akan bikin hidup kita tenang. Selama ini mungkin kita terlalu sibuk untuk menyusun bata satu demi satu, membangun benteng supaya kenyataan ngga bertubrukan menyerang kita. Ngga sadar semakin tebal, benteng itu kadang membuat kita menolak dan mengingkari kenyataan, bukannya mendewasakan.
Hm, bisa jadi benteng itu ibarat tombol 'unsaturated' untuk potret hari-hari kita. Benteng itu seperti sangkar yang tetap mengurung pemikiran kita. Benteng-benteng ini yang harus diruntuhkan supaya lukisan kita lebih bermanfaat untuk orang lain. Hoho, dunia ini menarik kawan. Banyak hal seru untuk kita nikmati dan tentunya kita syukuri. Bikin benteng hanya akan semakin mengurung keyakinan kita. Bikin kita semakin kecil karena dunia ini semakin besar.
Membuat benteng yang kita punya menjadi obor akan selalu menjadi daftar yang harus dikerjakan. Karena kita pasti akan selalu bertemu dengan titik-titik persimpangan. Titik dimana kita harus memutuskan bikin tembok benteng lebih tebal, atau menyalakan obor lebih besar. Buku-buku sudah mengantri untuk menyalakan api obor. Percakapan dan diskusi hangat dengan sahabat juga menanti perannya sebagai bensin supaya obor bisa menyala lebih lama. Menjadi obor adalah mulia. Tidak hanya menerangi tapak-tapak kita, tapi juga tapak-tapak orang-orang yang kita cintai.
Ya, Gus Dur (alm.) memang akan selalu dikenang sebagai obor, bukan sebagai benteng yang kokoh. Berkat beliau, banyak benteng-benteng yang dirubuhkan, dan banyak obor-obor baru menyala. Benteng-benteng yang terbangun atas nama iman, tapi sebenarnya hanya sebuah ketakutan.
So, be the light, banyak petualangan seru menanti.. :)

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..