kisah kamu dan dia.

Kamu datang padaku. Dan dia, dia, juga dia dia lainnya. Semua berkumpul dalam satu kisah lalu. Dengan kata-kata yang tumpah ruah. Pengalaman yang sama tapi beda.

Semua berawal dari satu kata. Rumah. Kata yang menempel pada diri tiap orang itu karena harus menuliskan deretan kata pada kartu identitas atau formulir data. Bukan kata yang menandakan di mana hati berada. Rumah mereka ada di hati-hati para sahabat. Dan mereka yang minum kasih dan cinta mereka.

Kisah yang tidak pernah melupakan jasa tak terganti. Di dalamnya ada janin yang menyelimuti selama sembilan bulan. Memberikan kehangatan dan kemudian berada di titik hidup dan mati. Kisah di mana makan selalu terhidang bersama materi-materi yang bergelimang.

Tapi manusia tetap manusia. Dosa tak pernah luput. Tak bisa. Dan diri tiap-tiap dari dirimu dan dia yang masih terus bergelut. Berperang walau tidak dengan mereka. Dengan diri sendiri yang menjalani. Mencoba untuk memaklumi dan berdamai.

"Aku lelah," kemudian "Aku jengah."

Dan meluncurlah deretan kisah. Pahit memang. Tapi seperti jamu, pahit itu menguatkan. Menyehatkan hati. Dan jadilah dirimu dan dia dia yang lebih dewasa.

Pelajaran tak ternilai untuk kamu dan dia juga dia yang lain.

Untuk diri.

Dan untuk dia dia yang lahir dari kamu kamu.

Komentar

Postingan Populer