demanding?
:: Dara
Sekarang sore menjelang malam minggu. Hari menutup tirainya seperti juga minggu yang hampir berakhir, di mana rintik-rintik hujan terdengar bersahutan dengan adzan Ashar. Rumahnya sepi, semua orang menyibukkan diri di ujung minggu.
Bunda menemani Ayah pergi ke arisan teman-temannya. Mbak Raras pergi bersama suaminya. Yah, namanya juga pengantin baru, tampaknya mereka pun tak peduli apa yang dilakukan Dara di sore ini.
Dara menikmati sore ini dengan membaca novel, sambil minum coklat hangat. Perpaduan sempurna. Ah, tapi tidak, tidak sesempurna itu. Dari tadi pagi ada yang gundah. Ia pikir membaca novel dapat menyembuhkan gundahnya.
Tampaknya susah sekali ia beranjak dari satu halaman ke halaman lainnya. Apa yang dibacanya tidak ada yang menyangkut di pikirannya. Sesekali membuka halaman baru, tapi kembali lagi membalik ke halaman sebelumnya. Bingung dengan jalan ceritanya karena pikirannya tidak sejalan dengan apa yang di bacanya.
Siapa lagi yang membuatnya gundah kalau bukan Tera. Jarang sekali ia gundah oleh masalah lain. Telfon Tera tadi malam membuatnya gundah. Bukan karena bertengkar. Dara tidak pernah bertengkar dengan Tera. Hanya saja tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang ganjil.
Biasanya pelarian pertama dara adalah Gading. Tapi kali ini tidak bisa, ia sibuk ke acara pernikahan saudaranya. Seharian ini tidak bisa dihubungi. Ah, setelah acara selesai paling dia menghabiskan waktu bersama Ravi. Apalagi minggu depan Ravi dinas satu bulan ke Jerman.
Tidak ada yang bisa diajak mengobrol saat ini selain dirinya sendiri.
"Kenapa ya? Tera yang biasanya hangat, tiba-tiba menjadi dingin. Menanyakan kabarku saja tidak. Jawab pertanyaan aja cuma seperlunya aja."
"Mungkin dia sedang sibuk kali. Lagi banyak yang dikerjain."
Yah, Tera memang sibuk akhir-akhir ini. Pekerjaan yang menumpuk, dan sering membuat Tera harus berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia. Bahkan sesekali ia ada perjalanan bisnis ke luar. Komunikasi sering menjadi masalah untuk mereka berdua.
"Ya, tapi kenapa ngga bilang aja kalo lagi sibuk?"
"Bisa aja karena sebenernya dia ngga enak sama kamu. Atau mungkin sebenernya dia juga kangen sama kamu?"
"Ah, kalau kangen aku kan dia bakal nanya-nanya aku. Bayangin aja, nanya kabarku aja ngga."
"Ah, kamu. Kaya ngga tau Tera kaya apa aja. Kalau lagi ada yang dipikirin, dikerjain, mana mau bisa dia nanya ini itu. Udahlah, kenapa jadi demanding gini sih? Nuntut ini itu." Masih lelah ditanya ini itu sama dirinya sendiri, "Udah lah, baca buku lagi.
Setelah perbincangan itu, gundah tidak juga pergi meninggalkan Dara. Mungkin seperti yang sebelumnya, hanya menunggu waktu untuk menjelaskan semuanya. Yah, kembali lagi, sabar harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya.
Ini konsekuensi menjalin hubungan dengan Tera. Dan Dara tahu benar itu, dari awal.
Untuk saat ini, menguntai rangkaian surat pembuka dalam hatinya bisa menenangkan. Dara beranjak, menyambar handuk dan mandi. Belum sedetik yang lalu akhirnya ia memutuskan untuk menghibur diri dengan lagu-lagu Chopin di sebuah resital, tak jauh dari rumahnya.
Sekarang sore menjelang malam minggu. Hari menutup tirainya seperti juga minggu yang hampir berakhir, di mana rintik-rintik hujan terdengar bersahutan dengan adzan Ashar. Rumahnya sepi, semua orang menyibukkan diri di ujung minggu.
Bunda menemani Ayah pergi ke arisan teman-temannya. Mbak Raras pergi bersama suaminya. Yah, namanya juga pengantin baru, tampaknya mereka pun tak peduli apa yang dilakukan Dara di sore ini.
Dara menikmati sore ini dengan membaca novel, sambil minum coklat hangat. Perpaduan sempurna. Ah, tapi tidak, tidak sesempurna itu. Dari tadi pagi ada yang gundah. Ia pikir membaca novel dapat menyembuhkan gundahnya.
Tampaknya susah sekali ia beranjak dari satu halaman ke halaman lainnya. Apa yang dibacanya tidak ada yang menyangkut di pikirannya. Sesekali membuka halaman baru, tapi kembali lagi membalik ke halaman sebelumnya. Bingung dengan jalan ceritanya karena pikirannya tidak sejalan dengan apa yang di bacanya.
Siapa lagi yang membuatnya gundah kalau bukan Tera. Jarang sekali ia gundah oleh masalah lain. Telfon Tera tadi malam membuatnya gundah. Bukan karena bertengkar. Dara tidak pernah bertengkar dengan Tera. Hanya saja tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang ganjil.
Biasanya pelarian pertama dara adalah Gading. Tapi kali ini tidak bisa, ia sibuk ke acara pernikahan saudaranya. Seharian ini tidak bisa dihubungi. Ah, setelah acara selesai paling dia menghabiskan waktu bersama Ravi. Apalagi minggu depan Ravi dinas satu bulan ke Jerman.
Tidak ada yang bisa diajak mengobrol saat ini selain dirinya sendiri.
"Kenapa ya? Tera yang biasanya hangat, tiba-tiba menjadi dingin. Menanyakan kabarku saja tidak. Jawab pertanyaan aja cuma seperlunya aja."
"Mungkin dia sedang sibuk kali. Lagi banyak yang dikerjain."
Yah, Tera memang sibuk akhir-akhir ini. Pekerjaan yang menumpuk, dan sering membuat Tera harus berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia. Bahkan sesekali ia ada perjalanan bisnis ke luar. Komunikasi sering menjadi masalah untuk mereka berdua.
"Ya, tapi kenapa ngga bilang aja kalo lagi sibuk?"
"Bisa aja karena sebenernya dia ngga enak sama kamu. Atau mungkin sebenernya dia juga kangen sama kamu?"
"Ah, kalau kangen aku kan dia bakal nanya-nanya aku. Bayangin aja, nanya kabarku aja ngga."
"Ah, kamu. Kaya ngga tau Tera kaya apa aja. Kalau lagi ada yang dipikirin, dikerjain, mana mau bisa dia nanya ini itu. Udahlah, kenapa jadi demanding gini sih? Nuntut ini itu." Masih lelah ditanya ini itu sama dirinya sendiri, "Udah lah, baca buku lagi.
Setelah perbincangan itu, gundah tidak juga pergi meninggalkan Dara. Mungkin seperti yang sebelumnya, hanya menunggu waktu untuk menjelaskan semuanya. Yah, kembali lagi, sabar harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya.
Ini konsekuensi menjalin hubungan dengan Tera. Dan Dara tahu benar itu, dari awal.
Untuk saat ini, menguntai rangkaian surat pembuka dalam hatinya bisa menenangkan. Dara beranjak, menyambar handuk dan mandi. Belum sedetik yang lalu akhirnya ia memutuskan untuk menghibur diri dengan lagu-lagu Chopin di sebuah resital, tak jauh dari rumahnya.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..