tanya yang tak pernah habis
:: Dara
"Sampai kapan diriku harus menunggu?"
Ada hal-hal yang memang harus ditunggu. Dan terkadang keyakinan membuat kita membelenggu diri dengan penantian. Keyakinan yang membuat kita acuh tak acuh pada ocehan sana sini. Ya, hanya satu dua dari mereka yang hadir sebagai sahabat. Dengarkan saja, dan biarkan sisanya ada pada diri kita. Jangan lupakan yang ini, kita berada pada ujung yang harus dipilih.
"Menunggu? Apa dirimu pikir, dirimu harus menunggu? Tidak. Dirimu tidak menunggu. Justru dirikulah yang menunggu dirimu. Menunggu dirimu menyelesaikan apa yang masih tertinggal. Cepatlah kejar."
Dia yang tidak boleh kita lupakan, menggenapi diri. Walau hingga kapanpun selalu ada saja yang membuatnya tidak genap. Genap berarti henti sudah darah dan nafas berjalan menghangati tubuh.
Menunggu memang menyebalkan. Tetapi kita memang dia tidak mungkin lari darinya. Menunggu menjadikan kita tahu seberapa besar energi yang kita punya. Dan berjalan bersama doa dan sabar selama penantian menjadikan kita yang lebih utuh.
"Hingga yang dinanti tiba atau luntur sudah yakin ini, hentikan sejenak langkah. Dan jalan-jalan di persimpangan menanti untuk dipilih."
Entah pada siapa ucapku ini.
Pada diriku, mungkin.
Atau.. ini tanyaku pada kala
yang jawabnya selalu menjadi tanya baru.
"Sampai kapan diriku harus menunggu?"
Ada hal-hal yang memang harus ditunggu. Dan terkadang keyakinan membuat kita membelenggu diri dengan penantian. Keyakinan yang membuat kita acuh tak acuh pada ocehan sana sini. Ya, hanya satu dua dari mereka yang hadir sebagai sahabat. Dengarkan saja, dan biarkan sisanya ada pada diri kita. Jangan lupakan yang ini, kita berada pada ujung yang harus dipilih.
"Menunggu? Apa dirimu pikir, dirimu harus menunggu? Tidak. Dirimu tidak menunggu. Justru dirikulah yang menunggu dirimu. Menunggu dirimu menyelesaikan apa yang masih tertinggal. Cepatlah kejar."
Dia yang tidak boleh kita lupakan, menggenapi diri. Walau hingga kapanpun selalu ada saja yang membuatnya tidak genap. Genap berarti henti sudah darah dan nafas berjalan menghangati tubuh.
Menunggu memang menyebalkan. Tetapi kita memang dia tidak mungkin lari darinya. Menunggu menjadikan kita tahu seberapa besar energi yang kita punya. Dan berjalan bersama doa dan sabar selama penantian menjadikan kita yang lebih utuh.
"Hingga yang dinanti tiba atau luntur sudah yakin ini, hentikan sejenak langkah. Dan jalan-jalan di persimpangan menanti untuk dipilih."
Entah pada siapa ucapku ini.
Pada diriku, mungkin.
Atau.. ini tanyaku pada kala
yang jawabnya selalu menjadi tanya baru.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..