perjalanan.
Selalu ada perjalanan untuk setiap orang. Sekalipun untuk mereka yang jiwanya mati mendahului raganya, yang tidak pernah memilih untuk dirinya sendiri.
Apa yang didengar, dilihat, dipikir, dan dirasakan selama berjalan kita kumpulkan jadi satu, sama seperti mengumpulkan keping demi keping mozaik. Keping yang harus kita susun selama perjalanan. Atau bisa saja kita susun ketika kita berhenti sejenak di persimpangan, memberi tahu arah perjalanan.
Selama perjalanan, kita tidak pernah bisa menghindari pertanyaan diri kita sendiri. Pertanyaan atas tiap keping yang kita kumpulkan. Pertanyaan gambar apa yang ada setelah kita susun. Apa yang diinginkan-Nya atas diri kita dari tiap keping itu.
Terkadang ada hal-hal yang tidak perlu kita pertanyakan. Hanya saja keingintahuan menjadi raja. Keping tetaplah keping. Tidak ada yang bisa mengetahui perlu atau tidak kita simpan, hingga waktu yang menjelaskan.
Peta memang tersedia. Tapi peta yang sama tidak membuat orang mengumpulkan keping yang sama. Tidak membuat setiap orang melihat pemandangan yang sama. Tidak membuat setiap orang mendengar kicau burung yang sama.
Kadang ada kepingan yang tidak terpakai. Atau mungkin baru akan kita pakai setelah persimpangan kesekian. Kadang kita harus berbalik arah mengambil keping yang tertinggal.
Dalam tiap keping ada kenangan. Kenangan bukan sesuatu yang semu, tetapi keping yang menjadi rasa, kemudian menjadi harap. Dan karena itu pulalah kita meneruskan perjalanan.
Tidak ada yang salah dalam tiap keping yang kita kumpulkan. Mau digunakan atau tidak, keping-keping itu tetap memperkaya rasa dan hati. Tapi tidak untuk mereka yang tidak pernah memilih jalan untuk dirinya sendiri.
Apa yang didengar, dilihat, dipikir, dan dirasakan selama berjalan kita kumpulkan jadi satu, sama seperti mengumpulkan keping demi keping mozaik. Keping yang harus kita susun selama perjalanan. Atau bisa saja kita susun ketika kita berhenti sejenak di persimpangan, memberi tahu arah perjalanan.
Selama perjalanan, kita tidak pernah bisa menghindari pertanyaan diri kita sendiri. Pertanyaan atas tiap keping yang kita kumpulkan. Pertanyaan gambar apa yang ada setelah kita susun. Apa yang diinginkan-Nya atas diri kita dari tiap keping itu.
Terkadang ada hal-hal yang tidak perlu kita pertanyakan. Hanya saja keingintahuan menjadi raja. Keping tetaplah keping. Tidak ada yang bisa mengetahui perlu atau tidak kita simpan, hingga waktu yang menjelaskan.
Peta memang tersedia. Tapi peta yang sama tidak membuat orang mengumpulkan keping yang sama. Tidak membuat setiap orang melihat pemandangan yang sama. Tidak membuat setiap orang mendengar kicau burung yang sama.
Kadang ada kepingan yang tidak terpakai. Atau mungkin baru akan kita pakai setelah persimpangan kesekian. Kadang kita harus berbalik arah mengambil keping yang tertinggal.
Dalam tiap keping ada kenangan. Kenangan bukan sesuatu yang semu, tetapi keping yang menjadi rasa, kemudian menjadi harap. Dan karena itu pulalah kita meneruskan perjalanan.
Tidak ada yang salah dalam tiap keping yang kita kumpulkan. Mau digunakan atau tidak, keping-keping itu tetap memperkaya rasa dan hati. Tapi tidak untuk mereka yang tidak pernah memilih jalan untuk dirinya sendiri.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..