cermin.
Tapi kita masih saja suka ditipu, bahkan ditipu bayangan sendiri. Seperti halnya cermin yang kadang berbohong, mengatakan kita lebih 'langsing'. Udah tahu kita ngga selangsing itu, tetep aja kita tersenyum setiap bercermin. Dan berulang kali melewati sambil melirik, kemudian kembali tersenyum, karena pujian yang tidak jujur tadi.
Apa yang membuat kita senyum ketika kita melalui cermin yang 'berbohong' tadi, membuat kita lalai pada apa yang seharusnya kita minta dari sosok cermin. Bayangan yang menyenangkan maupun kita, yang bercerita tentang kita apa adanya. Bayangan yang memberi tahu apa yang harus kita lakukan untuk menjadikan 'kita' yang lebih baik.
Buat aku, teman dan buah pikiran juga bisa menjadi tempat bercermin 'hati' kita. Terkadang ada orang yang memuji hanya untuk menyenangkan hati. Yang tidak berkata jujur hanya supaya dia tidak kita musuhi. Atau dengan karya-karya yang terlahir dari buah pikiran kita. Bisa saja kita menggambar sesuatu supaya terlihat seperti yang kita inginkan. Bukan memperlihatkan kita yang apa adanya. Bisa jadi kita menulis sesuatu untuk membuat sugesti dengan karangan-karangan khayalan kita. Bukan untuk jujur pada diri sendiri.
Ah, sekali-sekali mungkin tak apalah kita senang melihat bayangan yang kita sukai, bukan yang kita punya. Tetapi kita harus sadar mana bayangan yang jujur dan yang tidak. Jangan sampai hati kita 'dibutakan' oleh cermin-cermin palsu yang terkemas cantik.
Semoga.


Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..