srintil.

1 Januari 2010. Akhirnya aku menghabiskan "Ronggeng Dukuh Paruk (RDP)"nya Ahmad Tohari. Buku yang direkomendasikan tiga orang sahabat dari beberapa tahun yang lalu. Ngga tanggung-tanggung, rekomendasinya semua pake embel-embel yang kurang lebih sama, 'Lu pasti suka, Dan. Ngga mungkin ngga'. Oh, great, yea yea, I have to read that book. Tapi tetep aja ngga beli-beli. Hingga satu saat, 'terpaksa' beli buku untuk temen nunggu JIFFest 2009 kemaren, akhirnya aku putuskan buku super-recommended itulah yang aku beli.

 

Beberapa halaman awal sudah membuat aku tertarik. Apalagi kalau bukan karena tokohnya, Srintil, adalah titisan ronggeng. Penari. Buku yang menarik, apalagi RDP ini bisa membuat aku bertahan bersamanya tidak terlalu lama hingga tuntas. Cukup beruntung nasibnya, setelah nasib beberapa buku sebelumnya 'tergantung' tak jelas hanya pada beberapa halaman pertama. Danti si pembosan ini bisa berkomitmen tidak 'berselingkuh' dengan buku lain hingga tuntas.



Ada dua hal yang membuat aku cinta sama RDP. Bahasanya cantik. Analoginya pas. Plot ceritanya tidak mudah tertebak, bahkan 'twist'  yang ada di beberapa halaman terakhir yang mengejutkan. Walaupun banyak 'bunga-bunga'nya, tapi tidak membuatnya bertele-tele hingga membosankan. Seperti yang tadi aku bilang, si pembosan ini cepat sekali bosan kalau bahasanya bertele-tele basa-basi ngga jelas. Tapi Paklik Ahmad ini bisa membuat bunga-bunga bahasanya pas, sehingga aku bisa merasakan atmosfer Dukuh Paruk dan sekitarnya. Aku bisa masuk dan tinggal di sana beberapa minggu lamanya. Ikut menikmati nyanyian jangkrik, tarian Srintil, dan suka duka warga Dukuh Paruk. Detil sekali atmosfer ini  terpapar.



Kedua, aku cinta sama tokoh Srintil. Subjektif memang, karena aku suka sekali dengan tokoh perempuan Jawa, yang masih mengikuti anggah ungguh yang namanya perempuan Jawa itu terkesan 'nunut manut', tapi punya karakter yang kuat. Ini juga mungkin yang membuat beberapa sahabat merekomendasikan dengan embel-embel yang sama untuk buku 'Rara Mendut', yang sudah aku miliki tapi belum juga aku baca. Tahu kapan harus mempertahankan keyakinannya, tahu kapan harus berkatah 'inggih', tahu kapan harus menolak dengan cara yang sangat anggun. Tahu bagaimana menempatkan dirinya.



Srintil yang memiliki indang ronggeng, titisan ronggeng ini, masih memiliki impian. Tidak seperti ronggeng sebelumnya yang menjadi 'perempuan milik bersama', dia masih memiliki impian, mengikuti naluri untuk menjadi perempuan seutuhnya. Panggilan alam untuk sebuah pengabdian mulia, menjadi istri dan ibu. Walaupun akhirnya tidak seperti yang ia harapkan, tapi ia masih berusaha untuk mendapatkan cinta sejatinya. Cintanya pada seorang anak Dukuh Paruk lain yang bersemi bahkan sejak ia belum akil balig. Tuturan kisah ini membuat aku seakan bisa merasakan betapa besar keyakinan Srintil, bahwa hatinya sudah menjadi milik Rasus bahkan sebelum mereka menyadari apa artinya cinta. 



Srintil tidak serta merta menggunakan 'privilege'nya sebagai ronggeng yang memiliki banyak harta untuk mendapatkan keinginannya. Ia tidak menggunakan kecantikannya untuk kesenangan pribadi semata. Nalurinya untuk menjadi seorang ibu ia curahkan penuh pada Goder, yang juga merasakan ketulusan hati Srintil. Hasrat dan energi Srintil yang begitu besar bisa membuat seluruh warga Dukuh Paruk mengamini impiannya ini. Ketulusannya bisa membuat hatinya tetap tersenyum, walaupun pahit hidup kadang menggelayut manja tidak ingin beranjak. 



Buku ini memang dahsyat. Paklik Ahmad Tohari yang 'hanya' tamatan SMA ini bisa membuat RDP menjadi salah satu buku yang diakui dunia, diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Jepang. RDP bahkan menjadi bacaan wajib mahasiswa Universitas Bonn, Jerman, yang mengambil jurusan sastra Asia Timur. RDP ini merupakan trilogi dengan tiga judul, "Surat Buat Emak", "Lintang Kemukus Dini Hari", dan "Jantera Bianglala". Kebetulan sekarang ngga perlu beli tiga buku terpisah, karena edisi yang beredar sekarang trilogi RDP ini sudah disatukan. Ditambah lagi buku ini memasukkan kembali bagian yang katanya sempat disensor pemerintah yang berkuasa 22 tahun lalu. 

Oya, kabarnya RDP ini sebentar lagi akan difilmkan oleh seorang sutradara muda. Wah, jadi penasaran seperti apa filmnya. Pengen tahu siapa yang memerankan Srintil. Beberapa waktu lalu Happy Salma sempat membawakan penggalan monolog tokoh Srintil sebagai bagian dari persiapan monolog yang lebih utuh Maret atau April mendatang. Hm.. dari sisi akting mungkin dia cukup mumpuni, tapi apakah dia bisa membawakan aura seorang perempuan Jawa, mengingat dia berdarah Sunda. Bukan bermaksud SARA, hanya aura perempuan dari dua etnis itu beda rasanya. Seperti novel lain yang difilmkan, ada ketakutan dan keraguan, apa yang kita rasakan di buku bisa disampaikan melalui film. Yang penting, kita harus menyiapkan mental menonton, bahwa karya tulis berbeda dengan sebuah karya audio visual.

Sebagai pembuka 2010, RDP lebih dari cukup untuk mengingatkan bahwa ada harga yang harus dibayar ketika kita menunda apa yang sebenarnya sudah menjadi keyakinan kita. Ada yang harus kita korbankan satu saat kelak ketika kita tidak mengikuti hati nurani. So, keeping the faith. Jalani semuanya dengan lapang dada dan besar hati, maka impian yang sangat berharga akan menjadi milik kita. Bahkan tidak jarang harganya melampaui apa yang kita bisa bayangkan. Selain itu, RDP juga bikin sadar, bahwa jaman dan teknologi mengurangi 'rasa' kita dengan alam. Kita sebagai manusia kadang-kadang tidak peka, tidak mendengar apa yang ingin disampaikan alam. Yeah, 'Roro Mendut' menanti :)

Komentar

Postingan Populer