[dapoer] mimi hitam.

Jamu.

Salah satu 'branding' yang diberikan temen-temen buat aku. Tapi tidak untuk terminologi 'mbok jamu' lo yaa.. Ya, emang aku punya kebiasaan -dan kesukaan tentunya- yang tidak biasa untuk orang-orang, minum jamu. Sama seperti orang-orang yang dibesarkan secara jawa karena bapak ibu jawa, biasanya dari kecil udah kenalan sama yang namanya jamu. Begini ceritanya...

Perkenalan dimulai dari jejamuan yang levelnya paling 'rendah' karena mungkin rasanya ngga terlalu ajaib, beras kencur dan kunir asem. Tapi yang dibuat di rumah lebih sering kunir asem. Waktu aku kecil dulu, mbak Jaeni membuatkan satu panci besar jamu kunir asem ini buat serumah. Ya, bener.. se-ru-mah. Ngga cuma yang perempuan aja yang bisa minum kunir asem seperti yang kebanyakan orang tahu. Kunir asem itu untuk membersihkan darah, jadi cowo juga bisa minum.  Walaupun memang kunir asem itu juga sangat membantu meringankan masa-masa 'tidak nyaman' setiap bulan.

Waktu SD, sekitar tiga atau empat, mulailah kami sekeluarga berkenalan dengan yang namanya 'jamu godog' alias paitan. Jamu yang paling ditakutkan orang-orang karena paitnya. Ya iya lah, namanya juga paitan. Isinya macem-macem tetumbuhan, termasuk yang dikenal bikin pait brotowali dan sambiloto. Perkenalan ini dimulai dengan minum air dari godogan ke 5 (kalau ngga salah). Di godogan ke sekian itu, paitnya sudah banyak berkurang. Banyak berkurang bukan berarti ngga pait ya, tapi ya..pait-pait hambar gitu deh. Yang jelas jadi tau karakter rasa jejamuan itu.

Mungkin karena 'mind-set'nya udah dibilang "Biar pahit, yang penting sehat," jejamuan itu berhasil masuk perut tanpa pertumpahan darah, alias ngga perlu dicekokin. Tahun berikutnya, kita 'naik pangkat' minum godogan ke empat, yang tingkat kepahitannya juga ikut naik satu pangkat. Begitu seterusnya, sampe aku berani minum godogan pertama.

Lidah yang biasanya menolak rasa-rasa pahit itu pun lama-lama bersahabat dengan jejamuan. Pahit diasumsikan dengan sehat, tanpa harus ke dokter. Ya, keluargaku juga ngga terbiasa dengan pergi ke dokter dan minum obat-obatan. Kalau sakit yang penting istirahat, tidur cukup, banyak air putih, dan sebisa mungkin diobati dengan yang alami karena minum obat sama dengan minum racun.

Waktu mahasiswa, agak jarang bikin jamu sendiri di rumah. Apalagi setiap minggu ada 'mbok jamu' langganan yang ke rumah. Yang di minum tetep paitan dan kunir asem. Dua gelas setiap minum. Aku ngga terlalu sering minum beras kencur, soalnya jarang nemu yang enak [baca: kencurnya kental]. Beras kencur yang paling enak yang dibikin sama eyangku, dan susah untuk nemu yang kaya gitu lagi.

Sekarang, untuk 'cemilan' ada jamu tolak angin yang enak, manis madu, semriwing. Bikin enak badan kalo udah mulai kerasa meriang-meriang. Diminum langsung, bisa juga dicampur sama air atau teh anget. Untuk sarapan pagi, aku jadi 'Mimi Hitam', bikin wedang jahe merah, ditambah dengan kayumanis dan beberapa bahan lainnya. Anget, ngga gampang masuk angin, bikin seger.

Dari sekian banyak jamu yang udah aku minum, daily routine jahe merah dan kawan-kawan ini ngga ada pait-paitnya buat aku. Mau tahu yang lebih pait dari brotowali, yang kadang-kadang suka jadi 'standar' kepaitan orang-orang? Bidara laut!!! Paitnya cuma sedikit pas minum. Tapi setelahnya, paitnya 'nggantung' terus di pangkal lidah berjam-jam. Khasiatnya? Katanya sih buat bersihin darah, dan menghilangkan jerawat. Walaupun tahu khasiatnya, masih males minumnya. Tapi kalo buat fear factor doang sih hayu lah :p

Kaya asik ya kalau di Bandung ada kafe yang jual jejamuan, seperti di 'kafe Nyonya Meneer', atau 'House of Raminten' di Jogja. Karena ngga ada, aku jadi 'Mimi Hitam' aja deh pagi-pagi. Buat belanja keperluan menjadi 'Mimi Hitam' ini, ada Babah Kuya di Pasar Baru yang jual segala macam jejamuan lengkap! Btw, kalau-kalau ada yang perlu, di sini jualan kemenyan juga loh, hihi :p Hari ini sepertinya aku mau ke sana sama Astri. Ada yang mau ikut? :p

Komentar

Postingan Populer