aku, kamu, dan kayumanis
"Aku tahu, aku tahu dia akan datang pada diriku. Walau entah kapan."
Itu ucapku berkali-kali. Pada orang-orang, pada diriku sendiri. Keyakinan itu ada, bersama cemas, rindu dan rasa penasaran. Mengapa dia menghilang begitu lama. Hilang, hanya berbekas sebuah surat yang tidak bisa menjelaskan.
Tanpa aku sangka, saat itu datang. Datang tiba-tiba dan meluruhkan sebagian rasa cemasku.
"Sebagian?"
Ya, baru sebagian. Setidaknya keberadaannya sudah dirasakan kembali. Sebagian lagi nanti. Ada saatnya sendiri, karena kita tidak boleh mendahului takdir. Sebagian itu akan datang bersama sahabat kami lainnya,
pertemuan,
peluk rindu,
ribuan kata yang berhambur,
beberapa kali putaran jam,
gelak tawa,
mungkin tangis haru,
...
secangkir coklat panas,
dan satu yang tidak boleh tinggal, kayumanis :)
Sampai nanti kawan, kutunggu perjumpaan kita!
Itu ucapku berkali-kali. Pada orang-orang, pada diriku sendiri. Keyakinan itu ada, bersama cemas, rindu dan rasa penasaran. Mengapa dia menghilang begitu lama. Hilang, hanya berbekas sebuah surat yang tidak bisa menjelaskan.
Tanpa aku sangka, saat itu datang. Datang tiba-tiba dan meluruhkan sebagian rasa cemasku.
"Sebagian?"
Ya, baru sebagian. Setidaknya keberadaannya sudah dirasakan kembali. Sebagian lagi nanti. Ada saatnya sendiri, karena kita tidak boleh mendahului takdir. Sebagian itu akan datang bersama sahabat kami lainnya,
pertemuan,
peluk rindu,
ribuan kata yang berhambur,
beberapa kali putaran jam,
gelak tawa,
mungkin tangis haru,
...
secangkir coklat panas,
dan satu yang tidak boleh tinggal, kayumanis :)
Sampai nanti kawan, kutunggu perjumpaan kita!


Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..