bincang yang tak pernah ada.
"Hei, sampai kapan kamu akan terus membiarkan aku sendiri?"
Ah, aku lelah dengan semua ini. Tapi aku masih takut. Takut untuk bertemu denganmu, dan berbicara dari hati ke hati, dengan jujur.
"Ya, dialah yang mengajarkan kamu untuk membiarkan aku sendiri. Dan kamu semakin terbiasa dengan ketidakhadiranku. Aku ini tidak bisu, hanya tidak pernah kau ajak bicara."
...
"Hei, kenapa diam saja? Kamu sibuk meminta semua orang menolongmu. Tapi tidak, kamu dan hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri. Bukan dia, bukan mereka. Mereka hanya cermin. Dan kamu takut untuk bercermin."
Aku sadar, aku yang salah. Membiarkanmu membeku sendiri di pojok ruangan. Dan selama inipun aku berpura-pura kau tidak ada. Aku pun tak tahu sampai kapan aku akan menyalahkan dia, yang menyebabkan kamu terkunci di ruang sempit di ujung ruang sana.
"Oke, baiklah. Aku bisa membantumu membereskan semua masalahmu. Syaratnya satu. Hanya satu. Bawalah aku pergi, dan mari kita berbincang. Empat mata. Hanya aku dan kamu. Sanggupkah?"
Dan aku hanya bisa melihat kata-kata yang akan dikeluarkan orang-orang. Gimana yang ini, gimana yang itu. Banyak sekali yang harus aku kerjakan. Tidak, aku tidak sanggup meninggalkan pekerjaan itu.
"Baiklah, kalau itu yang kamu putuskan. Tapi jangan salahkan diriku nanti, atas apa yang terjadi. Setidaknya aku telah mengingatkan, bahwa masalah utamanya adalah kamu dengan aku. Itu saja, tidak lebih"
Dan aku hanya bisa takut. Takut pada diriku. Takut pada dia yang harus aku hargai karena harus. Bukan karena ingin.
Oh, aku lelah. Sampai kapan aku akan terus begini?
Mengabaikan suara-suaranya yang terus membayangi.
Mengabaikan dia, hatiku yang selalu aku kunci rapat-rapat.
*for someone who ignore herself.
Ah, aku lelah dengan semua ini. Tapi aku masih takut. Takut untuk bertemu denganmu, dan berbicara dari hati ke hati, dengan jujur.
"Ya, dialah yang mengajarkan kamu untuk membiarkan aku sendiri. Dan kamu semakin terbiasa dengan ketidakhadiranku. Aku ini tidak bisu, hanya tidak pernah kau ajak bicara."
...
"Hei, kenapa diam saja? Kamu sibuk meminta semua orang menolongmu. Tapi tidak, kamu dan hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri. Bukan dia, bukan mereka. Mereka hanya cermin. Dan kamu takut untuk bercermin."
Aku sadar, aku yang salah. Membiarkanmu membeku sendiri di pojok ruangan. Dan selama inipun aku berpura-pura kau tidak ada. Aku pun tak tahu sampai kapan aku akan menyalahkan dia, yang menyebabkan kamu terkunci di ruang sempit di ujung ruang sana.
"Oke, baiklah. Aku bisa membantumu membereskan semua masalahmu. Syaratnya satu. Hanya satu. Bawalah aku pergi, dan mari kita berbincang. Empat mata. Hanya aku dan kamu. Sanggupkah?"
Dan aku hanya bisa melihat kata-kata yang akan dikeluarkan orang-orang. Gimana yang ini, gimana yang itu. Banyak sekali yang harus aku kerjakan. Tidak, aku tidak sanggup meninggalkan pekerjaan itu.
"Baiklah, kalau itu yang kamu putuskan. Tapi jangan salahkan diriku nanti, atas apa yang terjadi. Setidaknya aku telah mengingatkan, bahwa masalah utamanya adalah kamu dengan aku. Itu saja, tidak lebih"
Dan aku hanya bisa takut. Takut pada diriku. Takut pada dia yang harus aku hargai karena harus. Bukan karena ingin.
Oh, aku lelah. Sampai kapan aku akan terus begini?
Mengabaikan suara-suaranya yang terus membayangi.
Mengabaikan dia, hatiku yang selalu aku kunci rapat-rapat.
*for someone who ignore herself.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..