drama.

Aku pernah berada di panggung itu.
Ya, panggung itu kawan.

Panggung impian semua orang. Latar biru langit. dengan awan berarak-arak. Dengan karpet hijau rumput. Hangat dan empuk ditengah dinginnya penyejuk. Satu dua saja mobil yang lalu lalang. Sesekali orang melewati, dengan senyum. Lalu sudah, pergi tak berbekas lagi. Oh, mereka datang hanya membawa rasa. Rasa baru hingga jadi tebal. Sedikit manis sudah cukup.

Di bagian lain, latar berganti. Hilang sudah sudah rumput, hanya ada gemericik air terdengar.
Latar yang lebih semarak dari panggung sebelumnya. Tapi sama hidupnya, karena hangatnya tidak berbeda.

Menenangkan.

Melegakan.

Orkestra semesta bermain. Selalu ada lagu alam untuk setiap apa yang dirasa. Orkestra semesta memang tidak pernah berhenti bermain. Kadang melantun mengiringi dialog, kadang berperang melawan dialog yang menggeser dari naskahnya. Kadang ringan riang, terkadang melankolis. Deru angin, rintik air, cuit burung. Ah, sungguh orkestra terbaik sepanjang masa.

Yah, di sana dialog terucap. Dengan lantang walau bibir terkatup. Drama yang berakhir gantung, hanya perlu dinikmati saja. Tidak perlu dipertanyakan. Bahasa tubuh dan rasa bermain. Ya, kalian lah raja panggung. Aku hanya mengikuti. Dengan jutaan penonton yang menyaksikan. Setiap helai daun di pohon, kelopak bunga di taman, orang yang lalu lalang dengan membawa rasa masing-masing. Dan benda-benda ciptaan manusia yang tampak menikmati pertunjukan.

Hei, tapi terdengarkah suara sang sutradara berkata "Berhenti?" Tidak, oh, tidak. Hanya sedikit beralih, drama masih berjalan di panggung lain. Dua panggung berbeda latar berbeda warna.

Kisahnya? Masih drama yang sama. Pun hangat dan rasanya. Lagunya dendang hati yang bernyanyi.

"Benarkah?"

Coba saja kau diam, hening seribu kata.

Dan rasakan kembali.

Komentar

Postingan Populer