bahasa biru.

Aku bertanya pada dirimu, "Apakah warna antara laut dan langit?"

"Biru."

"Bagaimana ketika malam hadir?"

"Biru."

"Hanya hari yang telah senja menjadikannya hitam, supaya rembulan tampak lebih cantik, tampak lebih terang." jawabmu.

"Dan mereka pun larut dalam bincang yang sama. Bila langit berkata purnama, laut pun akan menjawab dengan bahasa purnama pula. Bila mereka bercanda dengan sabitnya, maka lautpun akan menimpali pula dengan sabit."

Hari-hari berganti, tapi mimpiku masih sama. Percakapan aku dan kamu tentang laut dan langit, juga biru yang selalu hadir menemani.  

Hingga ada satu hari, ketika tetes hujan berhamburan. Seperti ada perayaan besar. Karena kilat lampu petir menyambar silih berganti, persis ketika seorang bintang berjalan pada karpet merah.

Riuhnya hujan seakan membungkam bincang laut dan langit. Tak ada bincang mereka tentang rembulan yang terdengar. Semuanya membaur dalam jutaan tetes air.

Dan aku takut. Takut akan hilangnya bahasa biru dari percakapan kita.

Komentar

  1. mungkin hujan adalah saat langit dan laut berbicara dengan bahasa diam. riuh hujan memang menakutkan, apalagi jika ada badai. tapi setelah hujan, dengan wangi tanah dan pelangi, pasti bahasa biru akan kembali.

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer