umur.

Semenjak kita lahir hingga kita mati nanti, ada satu angka yang selalu mengikuti. Angka yang 'resmi' akan bertambah ketika kita melalui tanggal yang sama ketika dilahirkan. Satu persatu, mulai dari satuan, belasan, hingga puluhan, atau untuk beberapa orang yang 'beruntung', akan diamanahi angka hingga seratus lebih. Angka-angka itulah yang orang-orang bilang 'umur'. Sebenarnya apa sih arti umur itu? Kalau kata Yang Mulia Kamus Besar, umur itu berarti lama waktu hidup. Selama nyawa masih menempel pada raga. Tetapi ternyata arti umur tidak sesederhana itu.

Angka yang namanya umur ini terus membuntuti mulai ketika kita mendaftar sekolah, mengisi berbagai macam formulir yang silih berganti datang, hingga membuntuti kita sebagai bagian dari tatanan sosial dan kultur. Untuk kita yang tinggal di Indonesia -dan di negara Asia lainnya juga sepertinya- embel-embel yang mengekor pada kata umur ini panjang seperti ular naga. Dari kecil pertanyaan-pertanyaan 'standar' yang kadang mengganggu ini muncul seiring dengan angka usia.

Dulu waktu kecil, sepertinya senang kalau ditanya "Umur berapa sekarang?". Semakin lama pertanyaan ini semakin 'tabu' untuk dilontarkan. Terlepas dari ditanyakan atau tidak, pertanyaan yang membuntuti umur ini ngga pernah mau lepas. Mau mulai didaftar? "Kapan sekolah?" "Kapan kuliah?" "Kapan lulus?" "Kapan kerja?" "Kapan nikah?" "Kapan punya anak?" "Kapan punya anak lagi?" Dan seterusnya, dan seterusnya.

Mungkin pertanyaan ini sepele, tapi ngga jarang bikin kesel dan cape jawabnya. Ada beberapa orang -biasanya teman yang sangat dekat- yang bertanya karena kepedulian orang yang bertanya kepada yang ditanya. Tapi terkadang, hanya pertanyaan yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang secara sosial. Pencapaian yang dibangun turun temurun tanpa suatu perjanjian tertentu di masyarakat, seolah-olah harus dipenuhi.

Perjanjian tidak tertulis itu lama kelamaan menjadi satu tekanan sosial dan kultur yang terkadang 'ngga penting'. Harus ini umur segini harus itu umur segitu. Harus punya jabatan, harus nikah, harus punya anak, dan harus-harus yang lain. Ujung-ujungnya? Bukan lagi proses pencapaian yang dikejar, tapi orang jadi berlomba-lomba memenuhi 'standar umur'. Ngga jarang ada yang curhat ini itu, mengeluh ini itu, padahal kalau kita lihat, dia punya uang, punya jabatan, punya semuanya, tapi ngga bahagia hanya karena ingin memenuhi 'standar umur'.

Terkadang dari situ kita jadi lupa apa maknanya umur itu. Setiap hari bahkan setiap detik adalah berkah. Apapun yang kita kerjakan, kita punya peranan sendiri-sendiri dengan kelebihan yang kita miliki untuk semua. Untuk aku, pencapaian adalah seberapa besar kita bermanfaat untuk orang lain. Dan semua yang kita miliki, mereka hanya membantu kita dalam meraih pencapaian itu.

Buat aku dan mungkin sebagian orang, semua pertanyaan standar yang mengekor pada angka usia itu malah menjadi ujian ketahanan mental. Sejauh mana aku meyakini apa yang aku jalani, sejauh mana aku memaknai dan menghargai waktu yang aku punya, dan sejauh mana aku ngga tergoda untuk hanya mengikuti arus nilai-nilai yang ada. Karena toh ngga semua hal bisa kita penuhi sebagaimana kita inginkan. Satu yang sangat aku yakini, doa dan keinginan dikabulkan diujung ikhtiar, di saat yang paling indah, bukan pada hitungan usia.

Nikmati dan bersyukur dengan hal-hal yang bermanfaat. Itu saja.

Komentar

  1. kita ga akan tau kapan umur kita akan berhenti dan..so enjoy and do the things that you believe in (in jg mantra buat diri sendiri, hehe)

    BalasHapus
  2. Kolega yang ultah minggu ini ngirim e-mail dengan judul: "It's not the year of manufacture, it's the miles on the clock." It's true ... it's how much you contribute that counts. So I hope you're happy Danti, you've made a difference in many people's life ... xx

    BalasHapus
  3. @enci
    yes.. the key is just be happy and be thankful for every little piece of life :) standar2 yang dibuat orang lain hanya bikin kita ngga bahagia, hahaha..

    @mb.anti
    ow.. many many thanks!! hopefully :) you too mbak xx

    BalasHapus
  4. Buatku umur adalah pengingat. Seperti angka pada jam. Target-target pribadi kapan harus dilaksanakan. Tidak perlu menuruti target orang lain kalo memang tidak sejalan dengan target kita.
    Tapi alhamdulillah ada umur yang berangka, agar selalu teringat "hey this life is short, we should make the most of while we can".
    nice one!

    BalasHapus
  5. Hanya mereka yang berkepala 3 yang akan menulis ini. hiHIhihihihi

    BalasHapus
  6. @lya. yes!! make it to the fullest!
    @atid. hihihi.. iya juga yaa..hahaha :) anak umur 5 taun ngga akan ditanya kapan lulus, kapan nikah, kapan punya anak.

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer