kalibrasi hati.

Ada yang menarik dari status facebook salah seorang teman baik yang sudah kaya mbak sendiri.
"wise words from a friend who is celebrating her birthday today: it's important to tidy up your heart, your attitude and your faith". 
Menata hati, menata sikap, menata iman. Buatku, semuanya ini terkemas dalam satu istilah karanganku, kalibrasi hati.

Sebelum dikalibrasi ada dulu nih yang harus dilakukan. Satu, bercermin. Menyadari bahwa apapun yang menyakiti dan mengecewakan diri kita, berasal dari kita sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain. Ya, ngga gampang memang untuk melihat bayangan kita yang sedih dan kecewa, apalagi kalau kita merasa apa yang kita rasakan adalah akibat dari perbuatan orang lain. Tapi kalau ngga begini, susah juga buat kalibarasi hati.

Seperti alat-alat laboratorium semacam timbangan, alat-alat pengukur, ada kalibrasi kecil, yaitu alat yang harus disetel sebelum penggunaan. Yang ini hanya memastikan alat pengukurnya berjalan dari 'nol'. Bukan cuma alat laboratorium juga ya, ngisi bensin juga 'dimulai dari nol ya pak'. Ada juga kalibrasi besar. Ibaratnya kalo ini sama seperti nyetem piano. Dilakukan besar-besaran, untuk membereskan masalah. Tapi yang besar ini bisa juga sih dilakukan kecil-kecil, sedikit-sedikit, tapi sering.

...

Senang, sedih, sakit hati, bingung, kecewa dan apapun yang kita rasakan, semuanya berawal dari emosi dan ego kita. Jadi hal pertama sebelum membereskan semua di luar diri, orang lain dan keadaan, emosi dan ego dulu yang harus 'didamaikan'.

Setiap apa yang kita rasakan dan kita pikirkan, mereka beranak. Beranak keputusan atas pilihan, dan kemudian beranak lagi, konsekuensi. Ketika kita memberikan energi positif pada suatu harapan dan cinta, akan beranak putusan yang positif, dan konsekuensinya pasti positif. Kalau kita sampai tersakiti, berarti niat kita belum sepenuhnya tulus, dan energi kita belom sepenuhnya positif.

...

Yang namanya kalibrasi hati buat aku itu berarti hatinya dimatiin dulu sejenak. Bukan berarti aku jadi manusia tidak berhati. Tapi membersihkan hati dengan menghentikan -atau kalo bisa mengurangi- semua yang menggunakan emosi, terutama emosi negatif. Kalau seneng-seneng sih bisa jalan terus, selama bisa membantu kalibrasi. Kan, namanya juga kalibrasi. Jadi seharusnya 'alat'nya diistirahatkan dulu karena biasanya yang bikin 'pengukuran' kacau itu emosi. Senang atau sedih. Wajar sebagai manusia, tapi emosi ini kadang mengganggu kalau sudah digunakan tidak pada tempatnya alias berlebihan.

Setelah dimatikan, jarumnya dipasin ke angka 'nol'. Nah ini dia nih yang kadang berat untuk dilakukan. Banyak hal yang mengecewakan kita. Bisa jadi bukan keadaan atau orang yang bersinggungan yang salah, tapi kita yang berharap terlalu banyak.

...

Terkadang, bermimpi bisa 'makan' energi positif kita. Eits, ini tidak berarti kita tidak boleh bermimpi ya. Hanya saja mimpi itu kita tetap harus menyelaraskannya dengan kapabilitas. Atau setidaknya kita tahu apa kemampuan kita sekarang, mengumpulkan 'bekal' supaya harapan kita terwujud. Kalau kita ngga dapet apa yang kita harapkan, mungkin memang bukan rejeki kita, atau akan kita dapet nanti di saat yang 'berjodoh'. Tapi yang pasti, pelajaran selama kita memperjuangkan harapan kita itu menjadi satu berkah.

Aku inget banget ketika satu saat temenku mengatakan, motif orang melakukan sesuatu itu hanya ada dua. Cinta dan benci. Atau bisa juga harapan dan ketakutan. Tidak lebih dari itu. Dan semua yang kita lakukan sama, yang membedakan hanya apakah kita menghidupinya dengan energi positif, atau energi negatif. Cinta dan harapan adalah dengan energi positif. Sementara sesuatu yang berawal dari benci dan ketakutan, diisi dengan energi negatif. Benci dan takut ini yang bikin kita menderita.

Kita tetap memiliki pilihan, berjalan dengan baterai positif, atau negatif. Bedanya, dengan energi positif, kita dapat menjadikan sesuatu yang negatif itu menjadi positif, Tapi dengan menjalankan hidup dengan energi negatif, apapun yang kita hasilkan tetap saja negatif.

Tidak jarang kita harus mengkalibrasi diri atas apa yang dilakukan orang lain, atau karena suatu keadaan. Meminta maaf apa yang tidak kita lakukan. Mengembalikan kondisi kita sendiri, atas keadaan yang tidak kita inginkan. Bukan perkara yang mudah untuk melakukan hal-hal tersebut. Kadang kita merasa kita yang menjadi 'korban' atas kesalahan orang lain, kenapa aku yang harus mulai minta maaf. Bahkan ketika rasa sakitnya belum hilang dari kita, kita yang harus berlapang hati untuk tidak hanya memberikan maaf, tapi meminta maaf duluan.

...

Banyak hal yang bisa didapatkan dengan hati yang telah terkalibrasi. Tentunya apapun yang kita jalankan, kita lalui dengan penuh kesadaran bahwa kita sedang 'belajar dari pengalaman'. Jadi apapun yang kita lalui, selalu memberikan pelajaran dan hikmah untuk kita. Yang terakhir, mengkalibrasi hati sama dengan belajar untuk ikhlas.

Kalibrasi hati sering kali bukan pekerjaan mudah. Sederhana, tapi sama sekali ngga gampang. Apalagi untuk masalah yang sudah lama. Paling lama adalah kalibrasi diri untuk sesuatu yang mungkin keliatannya kecil dan sepele, tapi setelah sekian lama, bertahun-tahun baru ketahuan deh kalau 'si kecil' itu ternyata sudah mengendap bertahun-tahun.

Kadang yang seperti itu awalnya tidak kita anggap sebagai suatu masalah, tapi ternyata masalah itu menjadi akar dari masalah-masalah yang lain. Seperti fenomena gunung es. Seperti fenomena serabut 'kanker' yang halus dan tidak terlihat, tapi ternyata akarnya sudah menyebar ke mana-mana.

Tentunya setelah kita mengkalibrasi diri, kita bisa mendengar 'diri' kita lebih baik, lebih mudah untuk bebenah apapun masalahnya. Bahkan ketika kita harus berhadapan dengan orang yang sedang memiliki hubungan tidak baik dengan kita. Dan karena emosi kita sering memperkeruh hati, berarti kalibrasi ini baiknya dilakukan berkala.

Tidak ringan untuk benar-benar memaknai bahwa cinta itu bukan berharap dan bukan pula karena takut. Sulit juga untuk benar-benar memahami bahwa cinta itu tidak hadir karena sesuatu dari masa lalu, atau tercipta dari keinginan di waktu yang mendatang. Tapi cinta itu ada untuk sekarang. Di sini. Sekarang.

Duh, panjang banget nih. Jarang-jarang bisa nulis panjang gini. Udah lama banget pengen nulis ini, tapi baru sekarang terpenuhi niatnya. Dan nulis ini ngga gampang buat aku karena seperti biasa, ngomong gampang. Berteori itu semua orang bisa. Yang sulit adalah menjalaninya. Tapi kita ngga pernah boleh berhenti untuk mencoba kan? Jadi, ngga bosen-bosennya aku mengatakan "Mari kita saling mengingatkan."

*mbak Anti, aku mencomot kalimat statusmu ya.. abis bagus buat pembuka :)

Komentar

  1. mbak Dan.... like this very very much :) *pelukkk*

    BalasHapus
  2. sama-sama tri. makasih juga buat bantuan kalibrasinya.. *peluuukkk* :)

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer