sekotak kehidupan.


gambar dari sini
"Life's a box of chocolates. You never know what you're gonna get."

Ya, hidup itu memang penuh kejutan seperti sekotak coklat. Kita tidak akan pernah bisa menebak apa isi coklat itu, hingga kita menggigit dan bertemu dengan isinya. Ada yang kita suka, ada yang tidak. Ada yang bisa kita tebak rasanya, ada yang tidak. Dan seperti coklat,  hidup akan diwarnai pengalaman kita dalam menggigit tiap rasanya, hingga saraf-saraf halus di lidah kita yang bercerita tentang kebenaran.

Apa yang membuatmu memutuskan coklat mana yang akan kamu pilih? Yang bentuknya cantik kah? Atau kau akan bertanya orang kira-kira apa yang enak? Apa kau hanya mengambil apa yang pernah kauambil dan kausuka? Atau kau hanya mengikuti kata hatimu? Beranikah kau mengambil potongan coklat yang belum pernah berjabat tangan dengan tangan-tangan lidahmu?

Bagaimana jika ada teman kita yang lebih dahulu merasakan, dan bercerita tentang rasa coklat yang sama? Bagaimana bila ada gambar di dalam kotaknya yang bercerita tentang isinya? Apakah warna warni hidup kita hilang? Apakah kita sudah bisa menebak rasa yang sama dengan apa yang mereka bilang? Atau mereka hanya bercerita apa yang mereka bayangkan saja?

Siapa tahu karamel di lidah kita tidak sama dengan karamel yang mereka bilang. Siapa tahu buah di dalam lebih asam dari kata orang. Siapa tahu kacang yang berdiam di dalam tidak sama dengan kacang yang sudah kenal baik dengan lidah selama ini.

Ah, bagaimana bila aku tak suka coklat macam itu? Manisnya memabukkan.

Bagaimana bila aku hanya suka sekotak coklat hitam yang pahit? Coklat saja, tidak lebih. Dimana getirnya mengajarkanku untuk menghargai manis dengan sederhana. Di mana getirnya mengajarkan aku mengenal mereka yang bukan coklat.

Atau, kalaupun ada isinya, setidaknya coklat isi itu tetap diselaputi coklat pahit. Supaya tidak kepalang mabuk dengan manis isinya. Supaya lidah bisa mengenal siapa yang tinggal di dalamnya lebih baik.

Bisa jadi aku suka coklat yang isinya tidak lazim disukai orang lain. Seperti marzipan? Baru tahu ternyata ngga banyak yang suka marzipan. Biarlah, toh yang enak buat aku belum tentu enak untuk orang lain juga kan? Dan tidak ada yang salah dengan itu.

...

Ah, buat apa pusing memikirkan sekotak coklat? Ambil saja semaumu, rasakan, dan nikmati dengan hatimu.

Bila tidak suka? Jangan pernah ambil potongan yang sama.


*untuk teman-teman tersayang..terima kasih telah mengisi 'coklat hitam' kesukaanku dengan rasa yang unik :)

Komentar

  1. Everybody likes chocolate...
    and understood clearly about the thing...
    nice metaphore...
    hehe...
    ^_*

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer