sunyi biru senyap.
Biru itu terdiam.
Sunyi.
Biru sedang memilih untuk membisu. Biru sedang tak ingin menyapa melalui belaian angin lembut. Tak ingin berbisik lewat deraunya. Pun lewat ombak dan riaknya.
Sepi.
Biru memang tak suka banyak berkata. Hanya sesekali bercanda lewat bahasa semesta.
Dan kini ia meringkuk di bawah selimut awan, sehingga aku tak lagi bisa saling berbagi lewat cerahnya. Dia tak lagi menggandengku melalui bayang, hingga aku tak tahu di mana matahari meletakkan singgasananya.
Tik.. tik.. rintik. Lalu deras.
Hujan lagi. Hujan lagi. Sekarang entah air mata siapa yang turun, menguyupkan bumi.
Dan nyanyian yang kudengar bukanlah nyanyian Biru.
Biru menutup peraduannya dengan tirai hujan yang datang berhari-hari. Membuat aku menggigil ketika berusaha menyingkap masuk.
Senyap. Inikah yang kauinginkan, Biru?
Kaubiarkan deras berpesta pora membungkam dirimu. Mungkin tirai kaututup erat agar aku merasa sendiri di sini. Bisa jadi kau hanya ingin tahu seberapa lama aku bisa bertahan dalam kuyup, lalu kau mengajakku masuk melalui cerah mentari dan merasakan hangatnya bersama.
Aku punya hak untuk memilih apa yang aku harap. Sebagaimana hakmu untuk memilih. Tapi, masih bisa kah aku berharap mereka sama?
Biru, terlalu lama dirimu mengurung kesendirian. Masih ada laut untuk kau ayun. Masih ada langit untuk kau peluk.
Dan masih ada cerah matahari yang ingin bersanding.
Sunyi.
Biru sedang memilih untuk membisu. Biru sedang tak ingin menyapa melalui belaian angin lembut. Tak ingin berbisik lewat deraunya. Pun lewat ombak dan riaknya.
Sepi.
Biru memang tak suka banyak berkata. Hanya sesekali bercanda lewat bahasa semesta.
Dan kini ia meringkuk di bawah selimut awan, sehingga aku tak lagi bisa saling berbagi lewat cerahnya. Dia tak lagi menggandengku melalui bayang, hingga aku tak tahu di mana matahari meletakkan singgasananya.
Tik.. tik.. rintik. Lalu deras.
Hujan lagi. Hujan lagi. Sekarang entah air mata siapa yang turun, menguyupkan bumi.
Dan nyanyian yang kudengar bukanlah nyanyian Biru.
Biru menutup peraduannya dengan tirai hujan yang datang berhari-hari. Membuat aku menggigil ketika berusaha menyingkap masuk.
Senyap. Inikah yang kauinginkan, Biru?
Kaubiarkan deras berpesta pora membungkam dirimu. Mungkin tirai kaututup erat agar aku merasa sendiri di sini. Bisa jadi kau hanya ingin tahu seberapa lama aku bisa bertahan dalam kuyup, lalu kau mengajakku masuk melalui cerah mentari dan merasakan hangatnya bersama.
Aku punya hak untuk memilih apa yang aku harap. Sebagaimana hakmu untuk memilih. Tapi, masih bisa kah aku berharap mereka sama?
Biru, terlalu lama dirimu mengurung kesendirian. Masih ada laut untuk kau ayun. Masih ada langit untuk kau peluk.
Dan masih ada cerah matahari yang ingin bersanding.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..