hujan pengantar hari.
Riuh rintik hujan yang semalam turun, membilas habis kecemasanku. Wangi tanah yang dibawanya membius, menggenapi kantuk yang segera menjadi mimpi. Duhai kau hujan, tak pernah kau hadir tanpa kisah, menemaniku dalam sepi diri.
Setelah itu, semilir angin segar membawa damai dan semangat baru. Dinginnya tidak lagi menggigit tulang-tulangku.
Setelah berteduh dalam lelap, langit pagi yang cerah ini mengajak kakiku untuk menapak hari yang baru. Masih banyak tanah yang belum terjejak, karya yang belum terlahir.
Berterimakasihlah pada Sang Barat yang mengantarkan rembulan, rela dirinya terjaga, menunggui lelap kita semalam suntuk.
Juga pada Sang Timur yang selalu memberikan hari baru, dengan sajian hangat mentari pagi dan tetes sejuk embun.
Hari ini sungguh cantik, dan pesonanya belumlah habis dinikmati. Kau boleh datang lagi hujan, tapi jangan lupa ajak bianglala untuk mampir ke sini.
Setelah itu, semilir angin segar membawa damai dan semangat baru. Dinginnya tidak lagi menggigit tulang-tulangku.
Setelah berteduh dalam lelap, langit pagi yang cerah ini mengajak kakiku untuk menapak hari yang baru. Masih banyak tanah yang belum terjejak, karya yang belum terlahir.
Berterimakasihlah pada Sang Barat yang mengantarkan rembulan, rela dirinya terjaga, menunggui lelap kita semalam suntuk.
Juga pada Sang Timur yang selalu memberikan hari baru, dengan sajian hangat mentari pagi dan tetes sejuk embun.
Hari ini sungguh cantik, dan pesonanya belumlah habis dinikmati. Kau boleh datang lagi hujan, tapi jangan lupa ajak bianglala untuk mampir ke sini.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..