teh hangat.


aku rindu biru langit itu
dengan awanawan yang mengantarkan tetes hujan
kemudian mereka segera memanggil harumnya tanah
seharum teh hangat

aku rindu jernih sungai itu
dengan empat tapak yang beriringan di sebelahnya.
kemudian mereka melantunkan gemercik air sungai
semerdu sesapan teh hangat

biru langit, jernih sungai
matari yang baik hati telah mengantarkan mereka
untuk menemaniku menikmati hari

dicium, disesap, dan dirasakan
hangat hingga tinggal di kalbu
seperti segelas teh hangat
yang kau berikan pagi hari itu

ah, terima kasih sahabat
katanya, indah itu hanya milik saat yang berkait
entah sekarang, entah pula nanti

akan ada teh hangat lain nanti
yang akan menghampiri dengan cara tak terduga
karena alam selalu punya cerita untuk kita

Komentar

Postingan Populer