klik.

Saklar lampu pasti ada di setiap kamar. Minimal sekali sehari kita menekannya untuk mematikan, sekali lagi untuk menyalakan. Ah, apakah hati ini juga punya saklar yang sama?

Klik.

Terkadang aku iri dengan kaum lelaki, yang bisa menyalamatikan rasa semaunya. Sama seperti saklar lampu yang tinggal ditekan atas bawah. Mati, mengutuhkan pikiran. Nyala, ketika merindukan hidup yang lebih meriah dengan cinta.

Klik.

Tapi saat ini, tampaknya ada kesempatan untuk bisa merasakan hal itu. Ah, kau emosi. Jangan marah bila kumatikan sejenak, ya. Tak perlu cemas, takkan kubuang. Hanya dimatikan sejenak, menikmati diri yang tanpa emosi.

Klik.

Aku yakin takkan mematikan saklar ini lama-lama, karena aku, dan semua orang yang masih merasa dirinya manusia, tidak pernah bisa berhenti menjadi mengutuhkan hati dan pikiran. Kalau kita bisa mengistirahatkan pikiran, mengapa tidak kita istirahatkan saja hati dan emosi sejenak?
.
.
.
Entah, aku pun tak tahu berapa lama aku bisa menikmati ruang gelap ini. Dan entah kapan akan kutekan lagi saklar itu supaya terang hatiku..
.
Klik.

Komentar

Postingan Populer