aku tetap aku

Haruskah aku menjadi siuh bila mencintai angin?
Karena aku memilih menjadi daun, untuk kauayun
juga menjadi nyanyian, untuk kauantar

Haruskah aku menjadi ricik bila mencintai air?
Karena aku memilih menjadi awan, untuk mengantarkanmu
juga menjadi tanah, untuk meresapmu

Haruskah aku menjadi terjal bila mencintai gunung?
Karena aku memilih menjadi pohon, untuk hiasi lerengmu
juga menjadi es, untuk buktikan luhurmu

Haruskah aku menjadi jilat bila mencintai api?
Karena aku memilih menjadi udara, untuk hidupi nyalamu
juga menjadi obor, untuk baringkan dirimu

Haruskah aku menebas jarak bila mencintai cakrawala?
Karena aku memilih menebar bintang, untuk sinari ruangmu
juga menggelar kaki langit, untuk nyamankan lelapmu

Haruskah aku menjadi dirimu bila mencintaimu?
Karena aku tetap aku, untuk lengkapimu
juga aku tetap aku, untuk diriNya lewatmu


*membalas untaian Sapardi Djoko Damono

Komentar

  1. terbius saya dengan puisi diatas.....bagaiman caranya bisa menulis eperti itu......saya tidak menyangka kata-kata bisa seindah itu....puisi..emang seni....yang hanpir pudar sepertinya....

    BalasHapus
  2. bisa hendra..aku juga baru dan masih banyak harus belajar kok :) ngga usah dipikir, dirasa aja..hehe

    BalasHapus
  3. siuh...
    ricik...
    itu adalah kata2 baru buat saya...
    WOW...
    nice...
    this is the most unforgetable 4me...
    nice..
    nice..
    once again...
    nice..
    ^_*

    BTW, siuh itu apa & ricik itu apa?
    dpt drmn sich tu kata...??

    BalasHapus
  4. @benny : dari KBBI nih..

    si·uh v cak enyah; pergi

    ri·cik v derau;

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer