nyanyian september.

masih ada hitungan sembilan pada ucap bibir. sepertinya awan kelabu menunaikan janji pada bumi untuk mengusir kering.

hingga penghujung sasi ini masih juga basah, siapa yang tahu. mungkin maksud hati ingin menyambung penghujan pada sepuluh nanti.

tetes hujan bertutur tentang titik lidahmu yang membisu. tapi ada tumpangan selain suaramu. mereka menggantung banyakbanyak pada titiktitik air di daun dan ranting.

titik lidahmu kelu. tapi masih ada pesan yang mengayun pada sudutsudut atap. juga pada ujung rangka payung. menjaga hati yang tak boleh tenggelam dalam kuyup.

tutur tak terucap terbang pula pada siut angin. berbaik hati menjaga satu benak dalam kepala tetap waras. tidak mengering terpanggang gerah, mengebaskan panas.

kemudian genta yang tertanam pada degupku, melonceng pada setiap tarian bintangmu. berputar bersama binar siarah yang berpendar.

lalu benakku ramai bergunjing. tentang warnamu yang berdesak. tangantangan saraf yang menjalar, merayu jantung untuk selalu berdetak satu irama dengan belahannya yang lain.

dan kamu, september. teruslah menyanyikan ketabahanmu. padamu tersungging seulas senyum. tak pernah luntur, bahkan oleh gerimis yang tertinggal



...


siarah : bintang beredar. planet yang mengitari matahari dan mendapat cahayanya.
genta : lonceng
sasi : bulan

Komentar

Postingan Populer