bahasa diam.

kita berseragung di bangku itu.

aku, kamu, bungkam.

dalam lengang kamu menjadi pemadah. ada yang terdengar, katakata pujian yang terucap tanpa suara. dalam sunyi bahasa kita terang.

cakapmu sempurna dalam diam.
tatapmu berbicara banyak dalam hening.
lakumu berkata jujur dalam sepi.

pekik lalu lalang, jerit keramaian, bungkam seketika tangan tergenggam. sesaat bisu, sesaat tuli. tapi tidak gelap, madahmu menjadi terang.

dia yang berbicara, simpul senyummu. jujur. merinduku.
dia yang memanggil, teduh matamu. tulus. tak pernah tinggalkanku.
dia yang berkata, hangat tanganmu. erat. menangkapku ketika jatuh.

dan mereka selalu bergunjing tentang kita, sayang. mencoba merinci bahasa kita. hanya upaya tanpa buah.

.

ya, kita pernah duduk di bangku itu, kemudian mengucap janji bersetujuan.
seperti pada suatu masa yang telah lalu.

Komentar

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer