#16 | Guru? Penulis?



Saya tengah membaca buku keren berjudul "Guru Gokil Murid Unyu" karangan JB Sumardianta.

Membaca tulisan-tulisan beliau mengingatkan saya pada tulisan-tulisan dari ST Kartono, penulis pendidikan yang juga sering menulis di media massa.

Kedua penulis keren tersebut banyak bercerita keseharian sebagai guru. Tulisan mereka segar, ringan namun berisi dan mendalam. Tulisan mereka membuat saya merefleksikan pemahaman atau pemikiran saya terutama di bidang pendidikan

Lebih menarik lagi ketika saya mengetahui fakta bahwa mereka berdua mengajar di sekolah yang sama, SMA De Britto, Yogyakarta. Sebuah sekolah keren yang ingin saya masuki kalau saya laki-laki.

Tampaknya menulis sudah menjadi budaya di kalangan guru De Britto. Ternyata tidak hanya mereka berdua saja yang aktif menjadi penulis, namun masih banyak guru-guru De Britto lain yang aktif menulis, termasuk menjadi penulis resensi seperti JB Sumardianta, atau penulis kolom atau opini di media massa seperti ST Kartono.

Saya melihat, kemampuan menulis bagi para guru itu penting. Secara teknik, guru-guru yang mampu menyampaikan gagasan dalam tulisan yang baik akan sangat mempermudah dalam pekerjaan, dari membuat catatan atau instruksi, hingga penulisan perencanaan dan dokumentasi pengajaran. Namun lebih dalam lagi, guru-guru yang fasih menulis punya senjata yang tajam untuk menajamkan nalar dan menyampaikan pemikiran-pemikiran mereka,  juga merefleksikan kesemuanya.

Saya pribadi sangat terbantu oleh dokumentasi tulisan-tulisan saya selama mengajar untuk melihat proses perkembangan saya pribadi, terutama saat saya mulai jadi guru. Banyak hal-hal penting dapat saya ingat kembali dengan membuka tulisan-tulisan lama saya.

Kalau tidak salah, guru-guru di SMA De Britto ini memang didorong untuk dapat menulis di media massa dalam bentuk opini, kolom, resensi buku, atau bentuk-bentuk lainnya. Mengapa media massa? Karena media massa bisa menjadi corong untuk menyampaikan suara guru ke masyarakat, selain itu, tulisan-tulisan di media massa sudah melewati penilaian tertentu hingga layak dimuat.

Yang saya masih penasaran adalah cara para guru-guru SMA De Britto  menyiasati produktif menulis di antara pekerjaan harian mereka yang tentunya sama banyaknya dengan guru-guru lain, karena kalau begitu tidak ada lagi alasan klasik tidak sempat atau tidak ada waktu.

Ada yang tahu tipsnya?

Komentar

Postingan Populer