#27 | di mana?

di sini,

kamu beranjak dari kursi kenyamanan. berjalan berputar dengan kaki berjinjit. berjingkat. mengendapendap. tak ingin membangunkan malam yang tidur lelap. langkahmu mendekati balkon, tempat paling nyaman untuk melihat nyanyian bintang. kerlipnya membaca kitab semesta. mengeja satu demi satu melalui terang bintangnya untukmu. dan ketika ufuk mengantarkan hangat dan kokok pagi, mereka pun undur diri dan langit menyebut satu persatu warna alam. dari yang pekat hingga yang terik.

ya, hanya untukmu.

.

di sana,

dia masih juga sembunyi dalam peraduannya. berkutat dengan apa yang harus ditunaikan. keheningan menjadi penguasa, seperti ratusan meter di kedalaman samudra. di mana ikanikan kecil tak mengenal berkas sinar. tidak peduli dengan riak air bermain dengan udara bebas, di mana para pelaut menghitung jarak, menerka daratan. terlihat hambar, tak mengenal warna.  tapi di dalam hatinya, ada berjuta rona yang siap digores untuk sebuah lukisan.

menyempurnakan lukisanmu. mungkin.

.

di manamana.

dan di antara kamu dan dia, ada bentangan permadani besar. dengan sulaman pepohonan penghembus napas. disapu sepoi angin yang terkadang menyerak kembali dedaun kering dan basah yang tersapu. untuk kemudian dipungut kembali. satu per satu.

di titik mana kalian jumpa, entahlah. 
tidak ada yang kita tahu sebelum berjodoh dengan waktu.

.

Komentar

Postingan Populer