#03 | Y-PLAN.bdg? I'm in!

Bulan Oktober lalu saya mengikuti sebuah konferensi-lokakarya tentang design thinking, DesignAction.bdg. Di sana saya berkenalan dengan salah seorang pembicara,  Deborah McKoy, seorang guru yang juga menjadi direktur dari Y_PLAN. Teman saya, Shinta -yang berlatar belakang Urban Designer- ingin mengadopsi program tersebut dan mengajak saya untuk sama-sama menggodok program ini di Bandung.

Sebentar, Y-PLAN itu apa sih?

Y-PLAN adalah singkatan dari Youth – Plan, Learn, Act, Now. Program ini merupakan proyek riset aksi (action research) melalui program pendidikan yang berpusat di Center for Cities & Schools’ (CC&S) Berkeley.  Y-PLAN ini bertujuan membangun siswa pengetahuan dan keterampilan untuk pendidikan tinggi, karir, dan menjadi warga kota. Dalam programnya, siswa akan berkolaborasi dengan pemerintah kota, institusi, atau komunitas untuk menciptakan lingkungan yang sehat, keberlanjutan, dan menyenangkan. Sasaran utamanya adalah siswa SMA. Terdengar seru, kan?

Nah, mengapa saya begitu tertarik bergabung bersama Y-PLAN.bdg? Saya ingin melempar diri kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika saya menetapkan hati untuk menceburkan diri di dunia pendidikan. Kesukaan saya naik angkot dan melihat kehidupan kota dari dalam angkot membuat saya banyak introspeksi. Mengapa kota yang saya cintai ini semakin lama semakin berantakan? Mengapa warga kotanya tidak peka? Mengapa pengambil kebijakan masih berpikir sebatas kebutuhan sendiri, bukan sebagai sebuah sistem? Otak saya menjawab hampir semua pertanyaan dengan satu kata : pendidikan.   

Baiklah, daripada kesal hati dan mengomel, mari kita terjun langsung! Melalui program ini, saya kesempatan berkontribusi untuk kota Bandung, melalui dunia yang saya cintai, pendidikan.

Pengalaman saya di sekolah, pelajaran hanya sekadar teori tidak didekatkan dengan kehidupan dan permasalahan sehari-hari. Kalaupun ada itu hanya di permukaan, tidak menjadi sebuah persoalan "bawang" yang terus dikupas setiap lapisnya hingga ke inti. Setiap mata pelajaran terpisah tidak terjahit pada satu persoalan tertentu. Program Y-PLAN ini sungguh pembelajaran nyata! Teman-teman SMA akan bersama-sama turun ke lingkungan sekitar sekolah untuk melihat dan merasakan lingkungan sekitar. Mereka akan berkenalan langsung dengan masyarakat, mendengarkan persoalan. "Ada persoalan apa saja di sana?" "Bagaimana perasaan warga?". Dan yang terpenting, mencari solusi sesuai dengan kapasitasnya : "Apa yang bisa kami bantu?"

Ya, kami ingin mengajak siswa SMA untuk berkontribusi kepada kotanya!

Yang menarik selama perjalanan ini, banyak yang bertanya, "Kenapa susah-susah masuk sekolah? Kan ribet. Apalagi sekolahnya sekolah negeri. Kenapa ngga jadi komunitas saja, kan lebih enak menjadi program informal." Untuk saya, masuk ke sekolah akan lebih baik. Banyak kegiatan informal yang ada di Bandung, namun saya pikir belum banyak program seperti ini yang betul-betul menggandeng tangan pihak sekolah untuk bekerja sama. Apalagi program ini juga menggandeng SKPD (Satuan Kerja Pengelola Daerah) alias pemkot. Dengan kerja sama tersebut, saya dan tentunya siswa juga belajar menjadi warga kota dan memahami peran pemerintah kota. Mudah-mudahan stigma "bekerja dengan pemkot itu ribet dan menyebalkan" akan terbongkar menjadi pengalaman yang menyenangkan di sini.

Dengan metoda design thinking yang berpusat pada manusia dan mengedepankan empati (human centered design), saya sangat berharap program ini bisa mengasah keterikatan emosional siswa pada kotanya. Dengan empati lebih baik diharapkan siswa lebih peduli dengan persoalan yang ada di kota. Lebih jauh lagi, semoga kita menjadi lebih tergerak untuk berkontribusi. Dengan metoda ini, saya berharap kami bisa belajar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Mendengarkan dengan seksama setiap kesulitan yang dihadapi masyarakat, tidak lantas menjadi "sok tahu" atau merasa lebih berilmu dengan mengambil asumsi.

Saat ini saya sangat menikmati setiap waktunya saat menggodok kurikulum. Sangat menyenangkan. Saya dan Shinta memang diberi amunisi kurikulum dan modul lengkap dari Berkeley. Namun karena budaya, kebijakan, dan sistem pendidikan yang sangat berbeda, banyak sekali penyesuaian yang kami terapkan. Saking semangatnya, kami juga menambahkan beberapa referensi lain untuk memperkaya dan mematangkang kurikulum ini.

Walaupun pada awalnya kami mengajak siswa SMA dalam program ini, namun ke depannya kami akan mengajak siswa SMP dan SD untuk bersenang-senang di sini. Akhir cerita, saya banyak berharap pada program ini. Saya meyakini program ini bisa menjadi titik awal kontribusi warga muda untuk kotanya, dan semoga satu saat nanti ketika mereka menjadi penentu kebijakan, pengalaman ini akan menjadi salah satu pelajaran berharga.

Bulan ini pilot project kami di SMAN 9 yang akan dimulai. Doakan lancar ya! 

Komentar

Postingan Populer