#14 | pembelajaran terintegrasi.
Kali ini tulisan saya agak serius. Saya ingin menuliskan diskusi yang masih hangat di whatsapp dengan seorang sahabat saya Puti yang juga pendidik.
Kurikulum 2013, kurikulum yang masih hangat keluar dari pemanggangan *namun belum matang :p*, mengusung beberapa konsep yang baik. Kenapa belum matang? Karena kurikulum tersebut belum dijabarkan secara detail dengan baik, dan belum mempertimbangkan kemampuan rata-rata guru yang ada sekarang.
Baiklah, kali ini saya tidak membahas tentang kurikulum, namun saya akan membahas salah satu konsep yang menurut saya baik dalam kurikulum tersebut : pembelajaran terintegrasi.
Ada beberapa teman saya yang tidak peduli dengan label metoda yang diusung kurikulum baru. Mau terintegrasi, kek. Mau holistik, kek, Mau tematik, kek. Terserah. Yang penting tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik.
Sebentar. Apakah memang seperti itu?
Apakah terintegrasi, holistik, dan tematik itu adalah metoda? Atau lebih dalam dari itu, mereka adalah pola pikir?
Namun yang saat ini saya pahami, semua konsep tersebut bersumber pada satu hal : system thinking. Semua hal berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dan tujuan dari pembelajaran-pembelajaran tersebut adalah supayasiswa kita tidak serta merta belajar sesuatu sebagai satu hal yang terkotak-kotak.
Di jenjang pendidikan dasar, saya pikir memang konsep berpikir tematik, holistik, dan integratif ini penting. Mengapa? Karena hal-hal yang dipelajari masih dalam tataran "gambar besar", Nanti, kalau sudah mulai jenjang SMA terutama kuliah, yang dipelajari sudah mulai mendalam dan spesifik.
Pengalaman saya belajar dengan sistem yang ada, semua hal seakan-akan terkotak-kotak antara mata pelajaran satu dan lain. Tidak pernah guru di kelas membahas apa hubungannya belajar satu topik dengan topik lain di mata pelajaran yang lain. Dengan tidak adanya pembekalan tentang dasar-dasar berpikir sistem, ketika kita mulai menjalani "spesialisasi" di jenjang SMA, spesialisasi itu malah terasa sebagai pembentukan kasta. IPA dan IPS. Kita tidak dibawa berpikir bahwa keduanya setara dan saling membutuhkan dalam kehidupan nyata.
Lebih buruknya lagi, ketika saya kuliah di jurusan teknik, hal-hal yang menyangkut "manusia" itu seakan "tidak penting". Hahaha, teknokrat sekali. Padahal rancangan kita itu akan digunakan manusia, lho. Saya dulu sungguh berharap saya mendapatkan satu atau dua mata kuliah tentang sosiologi atau antropologi, agar rancangan yang kita buat tidak "mentah" ketika akan diperkenalkan kepada pengguna.
Kembali lagi ke soal di awal, bila pembelajarannya berdasarkan konsep integrasi, tematik, dan holistik, siswa terbiasa menelaah satu persoalan dari banyak sudut pandang. Satu persoalan diselesaikan dengan berbagai alternatif, tidak hanya ditembak dari kotak kecil persoalan itu saja.
Belajar spesifik dan mendalam penting. Namun melihat gambaran besar juga penting. Tinggal bagaimana kita menempatkannya proporsional, agar kita dapat memecahkan berbagai persoalan secara kontekstual dan tidak terpecah-pecah.
Mungkin untuk tematik, saya setuju itu adalah metoda. Tapi untuk holistik dan terintegrasi, menurut saya itu adalah pola pikir. Semua hal bisa dipandang dari beberapa sisi. Semua bisa dikaitkan, walaupun mungkin tidak saat itu juga jadi terkesan berdiri sendiri.
Akhir kata, terberkatilah teman-teman guru yang terus menerus mengasah diri untuk dapat memberikan pembelajaran tematik, integratif, dan holistik yang mumpuni di kelas. Saya tahu itu tidak mudah, tapi perlu terus diperjuangkan.
Semoga kelak siswa-siswi di Indonesia menjadi warga yang tidak berpikiran sempit dan parsial.
Amin.
...
Oya, ini tulisan Puti tentang pembelajaran terintegrasi : Memahami Pembelajaran Terintegrasi (Bagian 1) : Definisi & Manfaat Pembelajaran Terintegrasi
Kurikulum 2013, kurikulum yang masih hangat keluar dari pemanggangan *namun belum matang :p*, mengusung beberapa konsep yang baik. Kenapa belum matang? Karena kurikulum tersebut belum dijabarkan secara detail dengan baik, dan belum mempertimbangkan kemampuan rata-rata guru yang ada sekarang.
Baiklah, kali ini saya tidak membahas tentang kurikulum, namun saya akan membahas salah satu konsep yang menurut saya baik dalam kurikulum tersebut : pembelajaran terintegrasi.
Ada beberapa teman saya yang tidak peduli dengan label metoda yang diusung kurikulum baru. Mau terintegrasi, kek. Mau holistik, kek, Mau tematik, kek. Terserah. Yang penting tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik.
Sebentar. Apakah memang seperti itu?
Apakah terintegrasi, holistik, dan tematik itu adalah metoda? Atau lebih dalam dari itu, mereka adalah pola pikir?
Namun yang saat ini saya pahami, semua konsep tersebut bersumber pada satu hal : system thinking. Semua hal berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dan tujuan dari pembelajaran-pembelajaran tersebut adalah supaya
Di jenjang pendidikan dasar, saya pikir memang konsep berpikir tematik, holistik, dan integratif ini penting. Mengapa? Karena hal-hal yang dipelajari masih dalam tataran "gambar besar", Nanti, kalau sudah mulai jenjang SMA terutama kuliah, yang dipelajari sudah mulai mendalam dan spesifik.
Pengalaman saya belajar dengan sistem yang ada, semua hal seakan-akan terkotak-kotak antara mata pelajaran satu dan lain. Tidak pernah guru di kelas membahas apa hubungannya belajar satu topik dengan topik lain di mata pelajaran yang lain. Dengan tidak adanya pembekalan tentang dasar-dasar berpikir sistem, ketika kita mulai menjalani "spesialisasi" di jenjang SMA, spesialisasi itu malah terasa sebagai pembentukan kasta. IPA dan IPS. Kita tidak dibawa berpikir bahwa keduanya setara dan saling membutuhkan dalam kehidupan nyata.
Lebih buruknya lagi, ketika saya kuliah di jurusan teknik, hal-hal yang menyangkut "manusia" itu seakan "tidak penting". Hahaha, teknokrat sekali. Padahal rancangan kita itu akan digunakan manusia, lho. Saya dulu sungguh berharap saya mendapatkan satu atau dua mata kuliah tentang sosiologi atau antropologi, agar rancangan yang kita buat tidak "mentah" ketika akan diperkenalkan kepada pengguna.
Kembali lagi ke soal di awal, bila pembelajarannya berdasarkan konsep integrasi, tematik, dan holistik, siswa terbiasa menelaah satu persoalan dari banyak sudut pandang. Satu persoalan diselesaikan dengan berbagai alternatif, tidak hanya ditembak dari kotak kecil persoalan itu saja.
Belajar spesifik dan mendalam penting. Namun melihat gambaran besar juga penting. Tinggal bagaimana kita menempatkannya proporsional, agar kita dapat memecahkan berbagai persoalan secara kontekstual dan tidak terpecah-pecah.
Mungkin untuk tematik, saya setuju itu adalah metoda. Tapi untuk holistik dan terintegrasi, menurut saya itu adalah pola pikir. Semua hal bisa dipandang dari beberapa sisi. Semua bisa dikaitkan, walaupun mungkin tidak saat itu juga jadi terkesan berdiri sendiri.
Akhir kata, terberkatilah teman-teman guru yang terus menerus mengasah diri untuk dapat memberikan pembelajaran tematik, integratif, dan holistik yang mumpuni di kelas. Saya tahu itu tidak mudah, tapi perlu terus diperjuangkan.
Semoga kelak siswa-siswi di Indonesia menjadi warga yang tidak berpikiran sempit dan parsial.
Amin.
...
Oya, ini tulisan Puti tentang pembelajaran terintegrasi : Memahami Pembelajaran Terintegrasi (Bagian 1) : Definisi & Manfaat Pembelajaran Terintegrasi

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..