[#4/37] racauan kegelisahan.
Tidak suka bersekolah bukan berarti tidak suka belajar.
Belajar tidak harus beratapkan sebuah institusi. Bahkan pendidikan tinggi, ternyata tidak mampu lagi menjamin terbangunnya sifat-sifat pembelajar. Upacara megah dengan toga kadang melegalkan sebuah gelar kosong. Gelar yang didalamnya terbungkus 'contekan', 'sistem kebut semalam', 'menyalin tanpa mencerna'. Indeks prestasi yang tidak jelas.
Lalu ke mana larinya makna pendidikan?
Mungkin ia bersembunyi di balik punggung pandangan masyarakat: orang hebat adalah otak kiri besar! Otak kanan sesaat menciut, dan tidak punya tempat di sini.
Bagaimana dengan pemahaman?
Keringat dan kerja keras enam tahun dihakimi ujian beberapa jam yang tidak berhati.
Yang ada hanyalah kertas-kertas penuh soal sulit. Jawabannya sudah terkirim lebih dulu sebelum kertas soal ditangan. Kertas-kertas soal yang buta sekolah kota dan sekolah pedalaman.
Bagaimana dengan etika dan moral?
Kadang hanya sebatas jawaban normatif bila ditanya. Hanya sebatas ucapan di bibir bila diperlukan. Hanya berakhir pada ritual tanpa hati.
Kecewa?
Kecewa saja tidak dapat menjadi penyelesaian. Teteskan keringat pada jiwa-jiwa muda, haus rasa ingin tahu. Binar-binar keingintahuan anak-anak.
Teteskan, walau hanya satu dua tetes saja.
.
terlalu banyak bila ingin diracaukan semua.. :)
Belajar tidak harus beratapkan sebuah institusi. Bahkan pendidikan tinggi, ternyata tidak mampu lagi menjamin terbangunnya sifat-sifat pembelajar. Upacara megah dengan toga kadang melegalkan sebuah gelar kosong. Gelar yang didalamnya terbungkus 'contekan', 'sistem kebut semalam', 'menyalin tanpa mencerna'. Indeks prestasi yang tidak jelas.
Lalu ke mana larinya makna pendidikan?
Mungkin ia bersembunyi di balik punggung pandangan masyarakat: orang hebat adalah otak kiri besar! Otak kanan sesaat menciut, dan tidak punya tempat di sini.
Bagaimana dengan pemahaman?
Keringat dan kerja keras enam tahun dihakimi ujian beberapa jam yang tidak berhati.
Yang ada hanyalah kertas-kertas penuh soal sulit. Jawabannya sudah terkirim lebih dulu sebelum kertas soal ditangan. Kertas-kertas soal yang buta sekolah kota dan sekolah pedalaman.
Bagaimana dengan etika dan moral?
Kadang hanya sebatas jawaban normatif bila ditanya. Hanya sebatas ucapan di bibir bila diperlukan. Hanya berakhir pada ritual tanpa hati.
Kecewa?
Kecewa saja tidak dapat menjadi penyelesaian. Teteskan keringat pada jiwa-jiwa muda, haus rasa ingin tahu. Binar-binar keingintahuan anak-anak.
Teteskan, walau hanya satu dua tetes saja.
.
terlalu banyak bila ingin diracaukan semua.. :)

Puji syukur pada Tuhan Semesta Alam, saya nggak sempat mengalami adegan 'sistem kebut semalam'; Kalo ada tugas yang garing dan (menurut nalar dan rasa) nggak penting, ya nggak saya kerjain; Kalo ada UAS yang garing juga kadang saya kumpulkan dalam keadaan kosong; Kalo soal daftar hadir, saya pake tanda tangan saya yang susaaaaah banget ditiru orang, jadi nggak pernah ada yang bisa memalsukan ketika saya nggak bisa hadir kuliah; oooh, sungguh asyiiiknya berkuliah-sambil-bermain, skripsi dan sidang (sambil 'naik meja'), serta wisudaan (sambil bikin komedi-hitam) :p
BalasHapuswalaupun tidak mengalaminya, tetapi sekitarnya banyak yang begitu kan, fan? :p yah.. banyak hal yang menjebak kita sekarang. menguji kita sekuat apa, masuk sistem atau bisa tetap 'tinggal' di luar sistem dengan keyakinan kita :)
BalasHapusJika manusia (berupaya/berhasil) memanfaatkan nalar dan rasa dengan sepatut-patutnya, dijamin nggak bakal tega membiarkan dirinya 'begitu';
BalasHapusOya... saya sangat banggga karena telah 'mengoleksi' empat buah nilai 'D' pada transkrip nilai saya ~~ sungguh (hasil yang) membanggakan dan penuh kenangan :D
Sungguh nikmatnya hidup tidak terganggu 'sistem' (baca: kengacoan) :D
________
NB: Dulu saya konsultasi dulu ke sekretaris jurusan, "Untuk bisa lulus, berapa batas maksimal jumlah nilai 'D'?", beliau bilang "Empat!", makanya saya segera pilih empat mata kuliah paling garing (dosennya)
Aku rajin bikin komedi-komedi semacam ini---sebetulnya ditujukan kepada teman-teman di kampus---ada yang ngeh, ada pula yang nggak; tapi setidaknya memuaskan hati sendiri :D
Maaf, saya jadi ikut-ikutan mengintip. Sekadar ingin meninggalkan jejak saja, dan ingin mengakui bahwa Saya telah berdosa dengan mengintip isi kepala (dan hati) orang lain. Tidak ada maksud untuk mengomentari "Racauan Kegelisahan" ini.
BalasHapus@demas : silakan.. bebas kok :)
BalasHapus