[#14/37] hidup adalah menari.

seperti anak kecil bermain cilukba, yang belajar tentang ada dan tiada. lalu kita semua mengalaminya dalam hitungan waktu yang berbeda. datang lalu menghilang, menumbuhkan setiap harap pada potongan detik, menit, lalu jam yang akan berlalu. hingga akhirnya berhenti pada satu titik yang tak terduga

semua bergerak pada ritmenya. mengeluarkan nada pada setiap nafasnya. semua berubah menjadi lagu, menjadi bentuk percakapan manusia dengan Sang Maha.

hidup itu sebuah tarian. lalu kita jadikan tarian itu menyala. kita menari untuk lagu semesta. lepas dalam rasa. katakata tentang tarian dapat tertulis. tapi hanya rasa yang menari yang dapat bercerita.

jiwa kita mengembara dalam semesta. tertawa dan berduka pada persimpangan satu dan lainnya, berharap mengantarkan jiwa kita pada titik baru tanpa ketakutan.

dan ketika doa, percakapan intim kita dengan Sang Maha, menerbangkan kita pada yang sakral, satu kesunyian jauh di dalam relung, kita rayakan dengan menari.

lagu..
seperti doa manusia pada Sang Maha, penciptanya. seperti pada karya manusia, sebentuk syukur pada Sang Maha. seperti semesta yang mengiringi tarian hidup manusia. dan..

...ya, jiwa kita menari! 

hingga titik puncaknya. hingga lepas nafas. hingga hanya 'aku' juga percintaannya dengan ruang jarak dan waktu.

dan hingga ada dan tiada berada pada satu titik yang saling berpeluk.

Komentar

  1. Sekarang, kemarin dan kapan pun, kita semua menari saling berpeluk; seluruh semesta; yang dalam ada, yang ada dalam tiada.. Kita menari, tarian acak yang setimbang, namun selalu tak pasti.. Dan atasnya kita sungguh pun beruntung..
    NB: Fisikawan quantum tau betul soal ini ;)

    BalasHapus
  2. menari akan membuat saya terlihat bodoh, karena saya clumsy dan tidak bisa menari...but let's dance anyway :)

    BalasHapus
  3. ah, nina.. biarkan jiwamu saja yang 'menari'.. lepas. bebas.. tanpa batas.. ngga akan terlihat bodoh kok.. dan dengan begitu ngga perlu belajar menari :D

    BalasHapus
  4. bagian akhirnya malah bermuara pada teletubbies hehehe ... salam kenal!

    BalasHapus
  5. @bang aswi : haha.. yang pelukan kan ngga cuma teletubbies aja bang aswi.. kayanya kita udah pernah kenalan deh, di workshop nulis semi palar :)

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer