[#10/37] sepuluh.
Sepuluh!
Angka tersebut sering kali menjadi salah satu 'cerminan' sebuah kesempurnaan. Untuk skala sepuluh, bukan seratus, tentunya! :) Nilai sepuluh sering kali menggambarkan sesuatu tanpa cela. Tidak ada satu pun kesalahan.
Di banyak sekolah, sepuluh menjadi nilai acuan. Semua di'reward' dengan angka. Akhirnya, demi laporan akhir tahun pendidikan, semua berlomba-lomba 'berlari' mengejar angka. Berkompetisi mengumpulkan angka yang akan menempatkan mereka dalam urutan 'rangking'. Lalu dari ranking tersebut, keluar cap-cap 'si pintar' dan 'si bodoh'.
Terkadang murid, guru, dan orang tua, tiga elemen penting dalam pendidikan anak, sudah tidak peduli lagi cara apa yang ditempuh anak dalam mengejar nilai. Mencontek. Sistem kebut semalam. Latihan soal banyak-banyak, alih-alih memahami konsep, masih banyak lagi.
Untunglah, masih ada sekolah yang tidak mengandalkan 'angka' dalam menilai murid-muridnya. Satu-satunya angka yang keluar adalah nilai test (review atau Pesta Soal, namanya), dan itupun berupa nilai 'pemahaman'. Nilai ini tidak menjadi 'hakim' dalam menilai anak, tetapi berupa lampiran tersendiri. Cukup satu halaman, menutup laporan akhir tahun yang lebih penting : penceritaan anak dari berbagai segi sebanyak belasan halaman A5. Cukup 'melelahkan' membuatnya, tapi itulah sebuah penjabaran proses belajar murid yang baik, menurutku. Setiap bagian yang bercerita. Worth any word! Suatu pengalaman yang menyenangkan membuat laporan tersebut!
Apakah dengan tidak perlu mengejar angka lalu mereka bisa bersantai-santai? Tidak demikian adanya. Tidak selesai memperbaiki LKS, tidak berhak mendapatkan 'kegiatan asyik'.
Masih banyak kesempatan di mana mereka dapat mengembangkan jiwa kompetitif mereka. Masih ada point. Masih ada sistem perangko yang akan tertempel pada 'buku bintang' mereka. Masih banyak 'reward' lain yang bisa mereka kumpulkan selain angka.
Dan aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari sekolah itu. Akhirnya aku merasakan bagaimana anak-anak berkembang, belajar, bermain, tanpa harus mengejar angka.
Angka tersebut sering kali menjadi salah satu 'cerminan' sebuah kesempurnaan. Untuk skala sepuluh, bukan seratus, tentunya! :) Nilai sepuluh sering kali menggambarkan sesuatu tanpa cela. Tidak ada satu pun kesalahan.
Di banyak sekolah, sepuluh menjadi nilai acuan. Semua di'reward' dengan angka. Akhirnya, demi laporan akhir tahun pendidikan, semua berlomba-lomba 'berlari' mengejar angka. Berkompetisi mengumpulkan angka yang akan menempatkan mereka dalam urutan 'rangking'. Lalu dari ranking tersebut, keluar cap-cap 'si pintar' dan 'si bodoh'.
Terkadang murid, guru, dan orang tua, tiga elemen penting dalam pendidikan anak, sudah tidak peduli lagi cara apa yang ditempuh anak dalam mengejar nilai. Mencontek. Sistem kebut semalam. Latihan soal banyak-banyak, alih-alih memahami konsep, masih banyak lagi.
Untunglah, masih ada sekolah yang tidak mengandalkan 'angka' dalam menilai murid-muridnya. Satu-satunya angka yang keluar adalah nilai test (review atau Pesta Soal, namanya), dan itupun berupa nilai 'pemahaman'. Nilai ini tidak menjadi 'hakim' dalam menilai anak, tetapi berupa lampiran tersendiri. Cukup satu halaman, menutup laporan akhir tahun yang lebih penting : penceritaan anak dari berbagai segi sebanyak belasan halaman A5. Cukup 'melelahkan' membuatnya, tapi itulah sebuah penjabaran proses belajar murid yang baik, menurutku. Setiap bagian yang bercerita. Worth any word! Suatu pengalaman yang menyenangkan membuat laporan tersebut!
Apakah dengan tidak perlu mengejar angka lalu mereka bisa bersantai-santai? Tidak demikian adanya. Tidak selesai memperbaiki LKS, tidak berhak mendapatkan 'kegiatan asyik'.
Masih banyak kesempatan di mana mereka dapat mengembangkan jiwa kompetitif mereka. Masih ada point. Masih ada sistem perangko yang akan tertempel pada 'buku bintang' mereka. Masih banyak 'reward' lain yang bisa mereka kumpulkan selain angka.
Dan aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari sekolah itu. Akhirnya aku merasakan bagaimana anak-anak berkembang, belajar, bermain, tanpa harus mengejar angka.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..