ngapain dong?
Kali ini aku ngga akan nulis yang 'puitis'. Haha, ternyata ada seorang teman yang tampaknya bosan dengan tulisan-tulisan sok puitisku, dan mencoba nantangin aku buat nulis yang bahasanya biasa-biasa aja. Bisa diterima khalayak ramai tanpa perlu berinterpretasi.
Oke, tantangan diterima.
Aku akan cerita sedikit tentang hari ini. Hujan deras tiba-tiba, sementara aku masih di angkot. Salah siapa, orang udah tau langit segitu mendungnya, masih haha hihi ngobrol sama tante yang ngga sengaja ketemu di toko buku tadi. Alhasil, terjebaklah aku di angkot dengan hujan yang besar banget, apa lagi mengingat ini bulan Juli. Bulan yang seharusnya udah sedikit kering atau kalaupun ujan gerimis-gerimis syahdu. Halah.
Buat aku, namanya nulis itu harus memberi energi positif sama orang. Buat aku loh ya. Terserah kalo ada orang lain yang mau bikin tulisan sebaliknya. Kenapa? Karena aku juga ngga suka baca tulisan orang yang menyedot energi positif aku. Hehe..
Nah, masalahnya sekarang, gimana caranya cerita. Harus nulis sesuatu yang positif, tapi yang mau dicurhatin ini kok cenderung 'ngomel-ngomel'. Gara-garanya satu pria yang mengganggu sekali pikiranku berbulan-bulan ini. Salah. Bertahun-tahun ini.
Yang 'tercinta' bapak wali kota. Hei, di sini ada yang mencintai beliau? Ayo ngaku! :p
Melihat air jalan-jalan dari angkot tadi, jadi inget lagi seberapa sebalnya aku dengan bapak satu itu. Air hujan itu ngga tau mau pergi ke mana. Jadi aja ikutan menuh-menuhin jalan, melewat begitu saja. Padahal kalau dipikir-pikir, si air itu harusnya jalan-jalan dengan cantiknya lewat rumput dan tanaman lain, ke tanah, untuk sampai ke rumahnya yang nyaman,'mata air'.
Mungkin aja si air udah ngomel-ngomel, "Gimana mau jalan-jalan cantik? Jalannya ketutup semua!" Hehe, sama dong dengan jalan-jalan di Bandung yang lagi pada ditutup. Katanya sih diperbaiki. Tapi yang ada adalah menutup lubang yang tidak ditambal dulu, sehingga masih sangat mungkin ada air dan udara yang terperangkap. Paling juga beberapa bulan lagi mereka udah berontak pengen keluar dan membuat lubang di atasnya. Proyek baru....
Cerita si air ini mungkin nyambung juga dengan penebangan pohon-pohon beberapa waktu yang lalu. Yah, dengan banyaknya semen di trotoar yang kadang-kadang juga membekap si pohon-pohon, ngga heran juga kalo banyak pohon mati muda. Kadang-kadang memang sudah dikasih tempat untuk tanaman atau rumput di sebelah trotoar. Tapi demi alasan kenyamanan konsumen, pedagang kaki lima yang merasa berhak atas tempat itu mengeraskan lahan juga. Jadi jangan heran juga ya kalau ada penebangan pohon dengan alasan 'pohonnya mati' sementara si pohon masih terlihat mungil. Abis ditebang ngga ditanam lagi.
Pohonnya stres. Warganya stres juga. Yea yea.. Mau jadi apa kotaku ini?
Ah, banyak juga warga yang stres, tapi kelakuannya masih juga sebelas dua belas dengan penguasanya. Ngga peduli. Satu aja contohnya, ngomel jalan, buang sampah sembarangan jalan juga. Jadi sama aja. Ngga ngaruh.
Kalo ngga mau ngomel doang, pengen berbuat sesuatu, sekarang bisa apa?
Pengen sekali melakukan 'sesuatu' untuk bapak penguasa kota ini. Tapi apa daya? Tampaknya nalar dan hatinya udah ngga jalan juga. Jadi, mungkin buang-buang energi aja. Berdoa aja lah cepet ganti. Membantu ngga? Berdoa aja lah, biar warganya yang punya kesadaran untuk berbaik-baik dengan alam semakin banyak. Takut kalau membayangkan si alam yang udah ngga tahan 'disiksa' kaya gini, terus berontak.
Kalo dipikir-pikir, ada ngga sih bagus-bagusnya si bapak ini? Kok kayanya ngga ada ya? Yang ada hanya bikin ngomel warganya. Yang ada tiap hari dikutuk-kutuk warganya. Tapi mungkin memang rejekinya dia ya omelan dan kutukan warganya. Atas apa yang diperbuat.
Jadi, balik lagi nih pertanyaannya. Ngapain dong?
.
ps: Hei ikansapi. ini ya tulisannya.. cukup ngga?
Oke, tantangan diterima.
Aku akan cerita sedikit tentang hari ini. Hujan deras tiba-tiba, sementara aku masih di angkot. Salah siapa, orang udah tau langit segitu mendungnya, masih haha hihi ngobrol sama tante yang ngga sengaja ketemu di toko buku tadi. Alhasil, terjebaklah aku di angkot dengan hujan yang besar banget, apa lagi mengingat ini bulan Juli. Bulan yang seharusnya udah sedikit kering atau kalaupun ujan gerimis-gerimis syahdu. Halah.
Buat aku, namanya nulis itu harus memberi energi positif sama orang. Buat aku loh ya. Terserah kalo ada orang lain yang mau bikin tulisan sebaliknya. Kenapa? Karena aku juga ngga suka baca tulisan orang yang menyedot energi positif aku. Hehe..
Nah, masalahnya sekarang, gimana caranya cerita. Harus nulis sesuatu yang positif, tapi yang mau dicurhatin ini kok cenderung 'ngomel-ngomel'. Gara-garanya satu pria yang mengganggu sekali pikiranku berbulan-bulan ini. Salah. Bertahun-tahun ini.
Yang 'tercinta' bapak wali kota. Hei, di sini ada yang mencintai beliau? Ayo ngaku! :p
Melihat air jalan-jalan dari angkot tadi, jadi inget lagi seberapa sebalnya aku dengan bapak satu itu. Air hujan itu ngga tau mau pergi ke mana. Jadi aja ikutan menuh-menuhin jalan, melewat begitu saja. Padahal kalau dipikir-pikir, si air itu harusnya jalan-jalan dengan cantiknya lewat rumput dan tanaman lain, ke tanah, untuk sampai ke rumahnya yang nyaman,'mata air'.
Mungkin aja si air udah ngomel-ngomel, "Gimana mau jalan-jalan cantik? Jalannya ketutup semua!" Hehe, sama dong dengan jalan-jalan di Bandung yang lagi pada ditutup. Katanya sih diperbaiki. Tapi yang ada adalah menutup lubang yang tidak ditambal dulu, sehingga masih sangat mungkin ada air dan udara yang terperangkap. Paling juga beberapa bulan lagi mereka udah berontak pengen keluar dan membuat lubang di atasnya. Proyek baru....
Cerita si air ini mungkin nyambung juga dengan penebangan pohon-pohon beberapa waktu yang lalu. Yah, dengan banyaknya semen di trotoar yang kadang-kadang juga membekap si pohon-pohon, ngga heran juga kalo banyak pohon mati muda. Kadang-kadang memang sudah dikasih tempat untuk tanaman atau rumput di sebelah trotoar. Tapi demi alasan kenyamanan konsumen, pedagang kaki lima yang merasa berhak atas tempat itu mengeraskan lahan juga. Jadi jangan heran juga ya kalau ada penebangan pohon dengan alasan 'pohonnya mati' sementara si pohon masih terlihat mungil. Abis ditebang ngga ditanam lagi.
Pohonnya stres. Warganya stres juga. Yea yea.. Mau jadi apa kotaku ini?
Ah, banyak juga warga yang stres, tapi kelakuannya masih juga sebelas dua belas dengan penguasanya. Ngga peduli. Satu aja contohnya, ngomel jalan, buang sampah sembarangan jalan juga. Jadi sama aja. Ngga ngaruh.
Kalo ngga mau ngomel doang, pengen berbuat sesuatu, sekarang bisa apa?
Pengen sekali melakukan 'sesuatu' untuk bapak penguasa kota ini. Tapi apa daya? Tampaknya nalar dan hatinya udah ngga jalan juga. Jadi, mungkin buang-buang energi aja. Berdoa aja lah cepet ganti. Membantu ngga? Berdoa aja lah, biar warganya yang punya kesadaran untuk berbaik-baik dengan alam semakin banyak. Takut kalau membayangkan si alam yang udah ngga tahan 'disiksa' kaya gini, terus berontak.
Kalo dipikir-pikir, ada ngga sih bagus-bagusnya si bapak ini? Kok kayanya ngga ada ya? Yang ada hanya bikin ngomel warganya. Yang ada tiap hari dikutuk-kutuk warganya. Tapi mungkin memang rejekinya dia ya omelan dan kutukan warganya. Atas apa yang diperbuat.
Jadi, balik lagi nih pertanyaannya. Ngapain dong?
.
ps: Hei ikansapi. ini ya tulisannya.. cukup ngga?

mantaaappp... kamu lulus tantangan! hahahaha..
BalasHapusuntung aja tadi ngga pake taruhan, jadi gw ngga harus nraktir lo atau apa gitu.. hihihihihi...
pak walikota, yg beneng dor.... :P
daaaa*n!! seharusnya taruhan dulu ya.. lumayan lah walaupun semangkok yamiennya sam's saja :)
BalasHapusAku ikut sebal! sama yang (tidak) terhormat bapak walikota!
BalasHapusPengen nangis kalo liat pohon-pohon yang baru ditebang...dan itu banyaaaaaak bgt Mbak, perhatiin deh kalo lagi di jalan..terakhir nemu 2 di Jl. Hasanudin depan Boromeus, dipotong di bagian atas (jadi mereka mungkin ngelesnya itu trimming) tapi yang dipotong SEMUANYA termasuk dahan utama! E M O S I ....
dan aku pun sebal dengan pak Gub jakarta sini, hihihi *lah ini kesal kok menular...*
BalasHapus