senyum dalam senyap.

. . .

hening menyekap nalar katakata. lelap oleh lelahnya kata merindu. setelah berputar meluapkan ungkap, pecahan kata untuk mengutuhkan rindu masih menghilang. terselip diantara tumpukan kalimat santun. terhimpit di antara para penjaga hati.

ah, aku lupa. mungkin masih ada serpihan yang jatuh di laut. berjalanjalan ia hingga ke dasar. dan aku harus menyelam, tenggelam lebih jauh dalam doa pengharapan. menghanyutkan diri dalam samudra ayatayat penenang hati.

penutup doa hilang dalam pulas. 

mungkin ada pula serpihan yang menguap. terbanglah ia  hingga ujung langit. dan aku harus melayang bersama titik air sepanjang hari. menjatuhkan bayang yang tercetak matahari di terik siang. pun menitipkan pesan pada syahdu rembulan kala senja habis.

tertinggal ia dalam mimpi yang digantung satu per satu dalam pucukpucuk bintang.

dan dalam heningnya, ternyata nalar katakata masih tersenyum. karena dia tidak mati. masih ada rasa yang hidup dalam jiwanya. Penguasa Langit dan Bumi tidak pernah lelap, walau satu bagian kecil dari kejapan mata.

'ya, dia masih berpikir. dalam hati'

hai penghuni negeri biru, tunggu aku pada lembaran baru.

Komentar

Postingan Populer