demi sebuah lukisan.

seonggok kanvas menyendiri di pojok ruangan. dan aku ingin menemaninya, dengan lukisanku.

kuseduh teh melati pekat-pekat dengan air yang baru saja membuih. kuambil kuas, kusapukan lapis demi lapis. tipis-tipis.

kelat. wangi.

ah, ada yang kurang. tanpa kopi, ada jiwa yang belum genap. lalu kuseduh kopi. sama panasnya. sama pekatnya.

wanginya lebih utuh.

hei, ini lukisan! untuk dilihat, bukan dicium. apakah wangi teh melati dan kopi itu akan betah tinggal dalam kanvasmu?

mereka melihat, tapi tidak merasakan. kenangan harum teh melati dan kopi enggan pindah dari hati. mengingatkan rasaku ketika menggores kuas satu demi satu. pada kanvasmu. ya, kanvas itu adalah kamu. mereka hanya melihat, tidak mencium. karena wangi itu hanya milik kita. aku, teh melati, kopi, dan kamu.

.

'mengerti kamu sekarang?'

Komentar

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer