cukupkanlah.

Bukan kamu.

Bukan kita.

Ini aku.

Aku adalah sebuah perjalanan. Tak ada kata-kata untuk perjalanan itu. Mungkin memang tidak pernah ada kata-kata yang bisa menggapai sebuah kisah perjalanan.

Perjalanan kali ini masih berjalan hanya karena waktu. Ini bukan waktunya. Belum waktunya. Dan pikiran dan rasa yang belum genap. Yang terlukis hanya sisa-sisa bayang Langit.

     Hatimu. Biru.

Hai Langit, kau tahu aku berusaha. Hai Semesta, Kau tahu aku selalu mencoba. Selama aku mencoba, aku belajar. Untuk tinggal dalam rasa yang kautinggalkan. Hidup di dalamnya.

Dan mereka, anak-anak Semesta selalu saja berteriak. Gemerisik angin. Rintik hujan. Gugurnya daun. Gelegar petir.

     "Dan cerita belumlah selesai."

Katanya, aku belumlah sampai pada titik itu. Masih akan berjumpa koma, koma, dan koma. Tanda tanya, tanda tanya, dan tanda tanya. Hingga sampai pada tanyaku.

     "Adakah titik itu?"

Rinduku pada titik. Harapku pada titik. Dan kuhabiskan apa yang kupunya hanya untuk titik itu. Titik ketetapan Semesta. Titik dimana aku bisa duduk, beristirahat dan mengerjakan kepingan-kepingan menjadi satu. Titik di mana aku bisa menyandingkan rasa dan logika tanpa perdebatan. Ya, perdebatan itu selalu melelahkan.

Semesta masih juga mengisiku. Karenanya aku masih bisa berjalan. Perjalanan panjang hingga kutemukan titik di mana aku bisa melihat senyuman di hari esok.

Dan Semesta yang terus berputar. Terus bergerak. Terus berubah. Seperti juga kita di dalamnya. Hanya hidup dalam tulus hati yang tidak berubah.

.

Sabar dan ketenangan hati. Hanya itu bekalku. Maka pada Semesta aku meminta,

     "Cukupkanlah."

Komentar

  1. like this... :)
    reading nature,, i do that too..

    BalasHapus
  2. @susan : thank you. yes.. they tell us a lot :)

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer