kesetiaan.

menyerah dengan kuas dan cairan bewarna dalam botolbotol, dirimu meninggalkan sebingkai kanvas di ujung ruangan. gambar-tak-jadi mulai menitikkan air mata. warnawarni cat mengalir. menitikkan tetes pada lantai.

takdir menentukan. pelukis pergi. ia tidak jadi hidup mengutuh. tidak jadi bernyawa.

kayu penyangga masih juga setia menungguinya menangis. dengan sabar dihiburnya si gambar-tak-jadi dengan bujuk rayu. 'nanti dia akan kembali, setelah menjemput inspirasi.'

apa daya, dirimu memang kembali. tidak untuk meneruskan apa yang telah dimulai, tapi untuk menurunkan kanvas. digantinya dengan bingkai lain. ah, ternyata inspirasi membisikkan hal lain padamu.

kanvas terpaksa pergi tanpa sempat menyeka tangisnya yang kelabu, yang lalu terseret oleh jejak kaki sang pelukis.

dan kayu penyangga tidak bisa menolak ketetapan. berpisah ia dengan kanvas dan kesedihannya. berjumpa ia dengan teman baru, sebuah potret cantik dengan biru langit dan laut merajai. dua pasang jejak kaki pada pasir putih tergambar di situ. seakan kesetiaan seabadi potret yang tercetak. potret yang anggun dan bersahaja. membawa suara desir ombak, membawa senyum matahari.

.

hei, tahukah kamu?

andai bisa memilih, ia ingin tetap bersama kanvas dengan jejakjejak kuas. sekalipun belum sempurna gambar yang kautinggalkan.

dan bertanyalah ia, apakah kesetiaan harus bergantung pada sebuah ketetapan?

Komentar

  1. hai mbak dan,,,^_^
    it's so beautifull...
    really like this!:D

    BalasHapus
  2. makasih dindaaa :) *pelukpelukkangeenn*

    BalasHapus
  3. Wiiihh, bagus tenaaan, Mbak :)

    Btw, gimana ya kalau komputer/laptop dengan tulisan pun begitu? Wah, saya pasti banyak tidak setia :D

    BalasHapus
  4. waduh.. sang master datang jadi maluuu :"> terima kasih nia :)
    hahaha.. wah, ngga tau juga tuh ni.

    BalasHapus
  5. kesetiaan letaknya di dalam hati, meskipun gambar-tak-jadi sudah pergi.

    BalasHapus

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer