teruslah berkata.

Selembar kertas dan papan ketik bukanlah pendengar yang baik. Karena mereka tidak bertelinga. Sampai kapan pun mereka takkan pernah punya. Tapi aku rasa mereka masih punya hati untuk memahami siapa yang menggoresnya, siapa yang menari di atasnya. Mereka punya sabar untuk terus menjadi tempat kisah kita tertuang. Mereka tidak pernah protes, pun tidak pula menyela ketika kita bercerita.

Tidak perlu mengucap kata-kata bijak, mereka mendewasakan kita melalui bayang yang dilahirkan. Bayangan hati. Bayangan pikiran. Kita pun kadang malu melihat bayang yang lahir melalui mereka. Ah, malu itu kan sebagian dari proses. Buat apa disesali. Mungkin malu itu datang juga penanda kita sudah beberapa tapak maju.

Aku ingin terus menggores diatas lembaran-lembaran. Aku ingin terus menari diatas papan ketik.

Sang Pendongeng, jangan biarkan aku kehabisan kata untuk berbagi dan belajar.

Semoga.

Komentar

Postingan Populer