gopek.

Bukan, bukan teh gopek yang wangi dan enak itu. Tapi lima ratus perak. Lima ratus perak yang kadang bikin berantem supir angkot dan penumpang, bersikeras menuntut apa yang mereka pikir menjadi haknya.

Sama temen kita sering kali menganggap sepele uang 500 perak.

"Udahlah...cuma gopek ini..."

500 perak seperti tidak berharga, dan begitu mudahnya kita mengikhlaskan si 500 perak itu.

Tapi, beda halnya dengan supir angkot, kita suka ngotot menuntut 500 perak. Baiklah, ngga jarang juga supir angkot suka semena-mena narik ongkos di atas yang seharusnya. Terlebih lagi kalau nyupirnya ga bener. Brenti di mana aja, ngga pake minggir. Nyupir kaya bawa barang.

Padahal kalo dipikir-pikir, uang 500 itu lebih berharga buat supir angkot yang hidupnya dalam keterbatasan materi. Keterbatasan keadaan. Pungli-pungli yang ngga punya ati nyebar di mana-mana. Belum lagi bensin mahal (tampaknya perlu peremajaan angkot dan melatih supir-supir supaya nyetir hemat bensin). Setoran juga ikutan naik. Belom lagi anak istri yang harus dihidupin. Belom lagi nyekolahin anak-anak.

500 perak itu sangat berharga untuk supir angkot. Apalagi kalo nyupirnya sopan, ramah pula, ngasih lebih juga lebih ikhlas kan kita?

Jadi, kemanakah 500 perak kita akan berakhir?

Di mana pun akan berakhir, mudah-mudahan disertai dengan keikhlasan..

Komentar

Postingan Populer