main sandiwara yuk.

"Dunia ini.. panggung sandiwara.."

Ya ya, dunia ini memang seperti panggung sandiwara. Dan sebagian besar orang akan mengatakan Tuhan adalah Sutradaranya, kita adalah lakonnya.

Sutradara. Yang mengatur sandiwara. Tuhan itu Sutradara yang seperti apa ya? Sutradara kan banyak macamnya. Ada yang mengatur aktornya A harus A, B harus B. Ada yang membebaskan kita berimprovisasi. Buatku, Tuhan adalah Sutradara baik hati yang memperbolehkan manusia sebagai aktornya untuk memilih apa yang akan dipentaskan, sesuai dengan perannya. Ya, manusia memang terlahir dengan perannya sendiri. Dan terkadang kita harus mencari apa peran kita dalam sandiwara ini.

Tapi tunggu dulu! Tuhan itu Maha dari segalanya. Dia adalah Penulis Skenario terbaik, dan bisa juga menjadi Aktor melalui lakon-lakon lain. Lawan kita dalam sandiwara. Sang Sutradara tidak membiarkan lakonnya 'mati gaya' dalam pementasan. Sang Sutradara membiarkan kita mengasah hati, rasa, dan pikiran untuk terus belajar menjadi aktor 'kawakan'. Sang Sutradara tidak pernah takut atas kepintaran lakon-lakonnya berimprovisasi, karena Ia punya jalan cerita yang tak berhingga.

Kita sebagai manusia, harus bersyukur atas kesempatan kita berimprovisasi. Menghidupkan hidup, karena tanpa improvisasi, kita akan mati sebelum mati. Selama masih melakukan perannya, tidak keluar dari Skenario Besar, selama kita melepaskan semua topeng-topeng dan berhenti tergoda untuk masuk dalam peran lain, kita akan bersandiwara dengan bahagia.

Hati-hati, terkadang sandiwara ini diinterupsi oleh lakon-lakon yang mengaku sutradara. Lalu kita harus bagaimana? Yah.. jawaban selanjutnya mungkin basi. Kita harus tahu dulu mana yang Sutradara beneran, mana sutradara gadungan. Selebihnya, kita tetap berada pada peran yang ada. Yang ngaku gadungan, ngga usah ditanggepin aja.

Hai.. panggung ini unik. Tak ada batas pemisah antara panggung dan deretan kursi penonton. Semua bercampur baur. Terkadang 'panggung' lain menjadi ajang berdialog lakon di panggung sini. Sering kali ada lakon yang ikut nimbrung sandiwara lain walaupun ngga penting. Komentar sana, komentar sini. Biar seru sandiwaranya. Gitu katanya.

Lupakan sejenak ada surga ada neraka. Yang jelas, selalu ada apresiasi selesai pementasan nanti. Ada yang tepuk tangan, ada yang menangis, ada yang acuh tak acuh. Atau bisa jadi kita hanya mendengar apa yang diapresiasi Sang Sutradara. Tak tahu lah. Sama halnya ketika hingga kini pun aku tak tahu, akankah sandiwara lagi setelah layar turun?

Ya.. Sang Sutradara tidak hanya berpangku tangan. Tidak hanya berkata 'action' dan 'cut'. Tapi ia masuk dalam hati setiap lakonnya. Dan lakon yang baik, bisa mengasah hatinya karena Sang Sutradara akan selalu mengingatkan ketika improvisasi membelokkan kita dari perannya.

Panggung ini untuk para lakonnya mengenal dirinya, mengetahui perannya, dan bersuka cita dengan itu semua.

Mari kita hidupkan panggung sandiwara kita!

*buat Ami yang selalu menginspirasi :p

Komentar

Postingan Populer