menunggu fajar.

Ada fajar yang kausembunyikan dalam hati. Gelap, senyap. Rapatrapat tak bercelah. Dan aku menebak rona warnanya. Bersemu jingga seperti langit senja kah? Sesekali kulirik senyum persembunyian yang penuh tekateki.

Dibalik tekateki pekat itu entah apa yang kaukerjakan. Mungkin kamu sibuk mencabuti rumput liar dari masa lalu. Penuh keringat menggali pahit yang mengakar jauh. Membuangnya jauhjauh. Kemudian menyemai bibitbibit kasih. Kauhujani bibit yang dengan tanya. Tanya atas yang telah lewat. Tanya atas kini dan nanti. Tanya atas waktu yang tepat untuk menyingkap fajar.

Oh, ternyata musim kemarin benihmu nyaris mati oleh kering. Oleh dingin. Karena kau terlalu angkuh untuk menyirami mereka dengan titiktitik air matamu. Atau mungkin disibukkan dengan mengurai sulursulur yang kusut. Menyangkut sana sini.

Sementara itu kauinginkan banyak harap dari apa yang kausembunyikan. Buah fajar yang sempurna dengan semu jingga kekuningan. Dengan langit bersih dan cericit burung. Dengan sejuk embun yang lembut menyentuh kulit.

Ah, tanya saja pada bunda yang lihai menyemai benih fajar. Sudah terbit satu berkas terang dari dirinya. Dan kau akan tahu, fajar tidak pernah terlambat terbit.

Kini, biarlah gelap dini hari menyelimuti, hingga terbit berkas sinar fajar dari hatimu.

Komentar

Postingan Populer