[19.05.10] racauan sore.
[putih]
"Biru, tak pernah sekali pun aku melarangmu menggantung impian. Tidak pernah. Tapi apakah aku boleh bertanya, apakah kamu memasukkan Kuning dalam impianmu?"
"Kuning, aku pun tak pernah sekali pun melarangmu menanam impian. Tidak pernah. Tapi apakah aku boleh bertanya, apakah kamu memasukkan Biru dalam impianmu?"
Pertanyaan yang sama, dalam gelap. Misteri. Teka teki.
...
[biru]
"Mimpiku tergantung di bintang terjauh dari pijakan. Aku menyayangi Kuning, aku menginginkan dia untuk ikut denganku. Maukah ia merelakan impiannya?"
...
[kuning]
"Impianku tulus, mengakar di bumi. Aku menyayangi Biru, aku bersedia ikut bersamanya. Tapi apakah dia mengerti aku sangat menyayangi impianku?"
...
Sulit memilih, sulit memutuskan. Harga impian dan cinta sama tak ternilainya. Tapi terkadang tetap saja terkadang satu diantaranya harus dikorbankan.
"Dikorbankan?"
"atau....diikhlaskan?"
...
Pilihan kadang tak kenal nama. Tak kenal kulit. Tak kenal kemasan. Tak kenal apakah itu impian atau cinta. Pilihan tetap pilihan. Berawalan, berakhiran. Ada alasan, ada konsekuensi. Hanya perlu hati yang bijak dan lapang untuk memilih. Dan sering kali tidak mudah untuk menjadi sederhana.
"Biru, tak pernah sekali pun aku melarangmu menggantung impian. Tidak pernah. Tapi apakah aku boleh bertanya, apakah kamu memasukkan Kuning dalam impianmu?"
"Kuning, aku pun tak pernah sekali pun melarangmu menanam impian. Tidak pernah. Tapi apakah aku boleh bertanya, apakah kamu memasukkan Biru dalam impianmu?"
Pertanyaan yang sama, dalam gelap. Misteri. Teka teki.
...
[biru]
"Mimpiku tergantung di bintang terjauh dari pijakan. Aku menyayangi Kuning, aku menginginkan dia untuk ikut denganku. Maukah ia merelakan impiannya?"
...
[kuning]
"Impianku tulus, mengakar di bumi. Aku menyayangi Biru, aku bersedia ikut bersamanya. Tapi apakah dia mengerti aku sangat menyayangi impianku?"
...
Sulit memilih, sulit memutuskan. Harga impian dan cinta sama tak ternilainya. Tapi terkadang tetap saja terkadang satu diantaranya harus dikorbankan.
"Dikorbankan?"
"atau....diikhlaskan?"
...
Pilihan kadang tak kenal nama. Tak kenal kulit. Tak kenal kemasan. Tak kenal apakah itu impian atau cinta. Pilihan tetap pilihan. Berawalan, berakhiran. Ada alasan, ada konsekuensi. Hanya perlu hati yang bijak dan lapang untuk memilih. Dan sering kali tidak mudah untuk menjadi sederhana.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..