Semoga si Kanan kembali.
Si Kiri duduk termenung di atas rak. Melamun, memikirkan si Kanan yang entah di mana. Tidak ada gunanya berumah rak bagus dari kayu jati yang harganya selangit. Tidak ada gunanya bermewah-mewah di rumah yang nyaman, dengan sapaan hangat penghuninya setiap pagi. Entah si Kanan di mana. Mungkin terselip di antara kardus-kardus. Mungkin lagi tersesat tak tahu jalan pulang.
Mereka terlahir bersama di sebuah pabrik oleh mesin-mesin yang kian canggih dan tangan-tangan terampil yang cantik. Mereka melengkapi satu sama lain. Apalah gunanya hanya satu hidup, bila yang lain mati atau entah di mana.
"Apakah kita terpikir, takdir si Kiri dan si Kanan yang berbeda?" Mungkin kah?
Mereka terlahir untuk memeluk kaki-kaki, yang tak bisa mereka hindari. Kadang wangi, kadang bau. Kadang berselimut kaus kaki hangat, kadang hanya berbajukan kulit.
Mereka tidak bisa memilih apa yang mereka injak. Karpet Turki yang mahal, atau tai kuda. Mereka tidak bisa memilih mencium apa. Wangi rumput sehabis hujan, atau bau sampah. Mungkin mereka harus menyelimuti kaki-kaki indah terawat bersahabat pedicure, atau kaki-kaki dengan gatal-gatal biang keringat .
Tahukah kau? Mereka itu setia. Pada pasangannya, pada yang mereka peluk. Kaki-kaki yang menjejak untuk impian, langkah demi langkah, dengan bekal kerja keras dan sabar. Hanya kali ini, dia yang dinamai takdir tengah memisahkan mereka. Tapi satu saat pasti bertemu. Karena tanpa pertemuan itu, mereka tak ada gunanya terlahir.
Jadi doa malam ini, "Semoga si Kiri segera bertemu si Kanan."
Amin.
Mereka terlahir bersama di sebuah pabrik oleh mesin-mesin yang kian canggih dan tangan-tangan terampil yang cantik. Mereka melengkapi satu sama lain. Apalah gunanya hanya satu hidup, bila yang lain mati atau entah di mana.
"Apakah kita terpikir, takdir si Kiri dan si Kanan yang berbeda?" Mungkin kah?
Mereka terlahir untuk memeluk kaki-kaki, yang tak bisa mereka hindari. Kadang wangi, kadang bau. Kadang berselimut kaus kaki hangat, kadang hanya berbajukan kulit.
Mereka tidak bisa memilih apa yang mereka injak. Karpet Turki yang mahal, atau tai kuda. Mereka tidak bisa memilih mencium apa. Wangi rumput sehabis hujan, atau bau sampah. Mungkin mereka harus menyelimuti kaki-kaki indah terawat bersahabat pedicure, atau kaki-kaki dengan gatal-gatal biang keringat .
Tahukah kau? Mereka itu setia. Pada pasangannya, pada yang mereka peluk. Kaki-kaki yang menjejak untuk impian, langkah demi langkah, dengan bekal kerja keras dan sabar. Hanya kali ini, dia yang dinamai takdir tengah memisahkan mereka. Tapi satu saat pasti bertemu. Karena tanpa pertemuan itu, mereka tak ada gunanya terlahir.
Jadi doa malam ini, "Semoga si Kiri segera bertemu si Kanan."
Amin.

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..