nyanyian hujan.

Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting.

Kuning bersenandung dalam hati, diiringi tetes-tetes Biru yang menyapa atap berirama seperti perkusi yang ditabuh kolosal. Hingga hari ini rintik Biru terus menyapa, meski menurut tanggalan seharusnya musim telah melenggang pergi berganti terik. Dan Kuning hanya membayangkan rumput yang ingin terus mengusir sepi dengan riuh rintik, tak mau kehilangan baunya setelah kuyup.

Titik-titik hujan terus bernyanyi. Kuning membayangkan Biru tengah merindu. Mungkin pada langit, hingga berpeluk erat pada awan-awan, menggelayut manja. Mungkin pada nyanyiannya  bersama atap-atap.

Airnya turun tidak terkira.


Kuning masih termenung bersama rintik yang bersahutan. Tidak tahu hingga kapan Biru masih bernyanyi bersama atap, seperti rindu yang seakan takkan habis mengunjungi cinta. Tidak ada yang bisa berhitung banyaknya rindu. Ia datang silih berganti tak terkira, seperti air yang terus turun memberikan hidup pada dahan dan ranting. Juga dedaunan. Juga akar. Sama seperti rindu yang datang untuk sebuah nafas baru.

Lewat rintik yang masih bernyanyi, titik-titik Biru masih juga memberikan nafas baru untuk Kuning.

Komentar

Posting Komentar

tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..

Postingan Populer