Sang Penari
Oh, sudah lama tidak mengulas film, dan saya bersemangat sekali membuat ulasan kali ini!
Film ini adalah film yang paling saya tunggu sejak tahun 2009, tepatnya segera setelah saya tahu bahwa "Ronggeng Dukuh Paruk" (RDP) karya Ahmad Tohari akan difilmkan. Kilas balik tahun 2009, ketika saya dan teman-teman membawa cin(T)a di JiFFest, saya membeli buku "Ronggeng Dukuh Paruk" versi lengkap (trilogi dalam satu jilid) untuk mengisi waktu luang. Melihat saya membawa-bawa buku tersebut teman-teman saya berkomentar, "Wah, kamu baca itu karena mau difilmin, ya?". Dan tak lama kemudian saya bertemu dengan Ifa Isfansyah sang sutradara yang nanya, "Loh, baca RDP? Udah sampai di mana?" dan saya jawab, "Baru juga mulai. Baru sampai halaman 10." Sejak saat itu, saya selalu menunggu-nunggu filmnya dirilis.
Bukunya sendiri adalah salah satu buku favorit, saya baca karena banyak teman yang meyakinkan bahwa saya akan menyukainya. Mengingat saya perlu banyak energi untuk membaca buku sampai habis tanpa terpotong-potong, dengan RDP saya tidak mengalaminya. Ceritanya sukses 'mengikat' saya menghabiskan buku tersebut dengan cepat, dan menghanyutkan saya pada alurnya.
Memang, dalam versi filmnya ada beberapa hal yang membuat saya sedikit kecewa. Dialek Srintil dan beberapa pemeran lain yang kurang 'njawani' dan terdengar kagok. Terutama karena Srintil tidak dapat menyebutkan namanya sendiri dengan dialek yang pas. Ya, saya orangnya mudah terganggu dengan dialek yang tidak pas dengan setting film, dan hal ini tidak hanya pada "Sang Penari" saja. Menurutku Pia masih bisa sedikit lagi mengolah dialek untuk membuat film ini menjadi lebih 'nendang'. Tetapi hal ini termaafkan dengan akting Prisia Nasution (Pia) dan gerak tubuhnya yang buat saya cukup mewakili sebagai penari ronggeng. Gerakan tarinya terlihat luwes, sederhana, dan mudah (baca : effortless) padahal perlu pendalaman untuk bisa menampilkan seorang 'Srintil' yang menari. Aktingnya prima. Untuk mendapatkan peran ini bukan hal mudah untuk Pia. Ia bahkan dua kali ikut casting, juga mengambil kursus singkat akting di Sydney, Australia (baca "Niat Besar Prisia Nasution untuk Sang Penari").
Detail lain yang mengganggu adalah baju-baju tentara yang warnanya masih sangat prima, tampak seperti baru beli, masih bersih walaupun seharusnya dalam cerita kita tahu baju tersebut sudah dipakai berulang kali. Rasanya, terlalu bersih dan terlalu baru untuk disandingkan dengan kesederhanaan pakaian warga Dukuh Paruk yang sangat sederhana dan merakyat dengan segala noda-noda kotor juga debunya. Juga untuk mobil-mobil tua yang terlalu kinclong tanpa cacat.
Tapi saya lega, hal-hal yang menggangu tadi terbayarkan dengan nilai-nilai plus yang lain. Film ini berhasil mengusung sisi-sisi 'keperempuanan' yang cukup tebal yang saya tangkap dari novel aslinya, RDP. Keperempuanan di mana Srintil merasa terhormat bisa menjadi ronggeng di dukuhnya, keperempuanan ketika ia memiliki cinta mendalam pada seorang Rasus, juga kerinduan Srintil untuk memiliki keluarga dan anak. Film ini juga berhasil menyajikan sebuah rasa rindu yang meluap, tradisi yang mengakar (termasuk yang kepercayaan berbau mistis pada masyarakat setempat), potret zaman pemberontakan tahun '65, semuanya diberikan dengan porsi yang pas melalui gambar-gambarnya, bukan dengan kata-kata yang frontal (ada beberapa yang terasa terlalu frontal tetapi tidak mengganggu).Ifa berhasil mengemas alur dengan rapi dan cantik, apalagi jika mengingat ia membawa trilogi RDP yang begitu panjang. Tidak heran, perlu proses panjang untuk mengutuhkan film ini, memberi energi dan emosi di film ini (baca "Ifa Isfansyah: Aku Generasi 98, Bukan 65"). Kronologi dan perpindahan waktunya rapi, mengingat potongan waktunya cukup rapat. Satu hal lagi yang saya rasakan, film ini sedikit memberi jarak antara penonton dengan ceritanya, seakan-akan kita ada di pihak ketiga, entah apakah memang dimaksudkan demikian atau tidak. Ada titik-titik yang membuat saya terharu, membuat saya merasa 'sesak', membuat saya terhanyut, tetapi masih berbeda rasanya bila kita membaca RDP dimana pembaca benar-benar melarut dalam cerita. Saya merasakan chemistry antara Srintil dan Rasus (Nyoman Oka Antara) di film ini. Sedikit disayangkan, endingnya kurang menggigit. Alur yang sudah tertata rapi, melonggar di titik akhir karena kurang menjelaskan apakah "Sang Penari" ingin menyamakan ending dengan buku aslinya, atau memang ingin tertutup dengan akhir yang berbeda.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebelum menonton saya berharap banyak pada film ini. Wajar bila ada ketakutan tersendiri menonton film yang diangkat atau terinspirasi dari sebuah buku. Saya tidak dapat melepaskan diri dari harapan dan pembandingan buku-film. Saya sengaja tidak mau membaca ulang buku RDP untuk mengingat-ingat kembali detail yang ada. Saya mengandalkan ingatan 'hati' saya pada rasa yang dibawa Ahmad Tohari sang penulis RDP. Dan untuk ini "Sang Penari" berhasil mengantarkan 'rasa' yang sama dengan apa yang ada pada "Ronggeng Dukuh Paruk".
Salut untuk akting Oka Antara yang sangat 'Rasus'. Salut untuk Eros Eflin sang penata artistik yang dapat membuat seting yang keren. Salut untuk Yadi Sugandi sang penata gambar yang dapat mengantarkan penonton dengan baik (baca "Yadi Sugandi: Mengapa Tidak Digital?"). Saya suka 'guncangan-guncangan' di beberapa adegan yang sangat membantu penonton memasukkan dirinya pada cerita, yang juga menghidupkan kisah. Salut untuk Aksan dan Titi Sjuman yang mempertebal 'rasa' melalui musiknya, juga untuk tim yang mendandani film ini sehingga cantik warna dan auranya, sesuai dengan zaman yang dibawanya. Dan terakhir, terima kasih untuk publicist "Sang Penari" yang memberikan kesempatan pada penonton yang resah menunggu terlalu lama seperti saya untuk dapat menikmati film tersebut lebih awal dari jadwal tayang di bioskop.
Kesimpulan, saya tidak akan merasa rugi membayar tiket kalau pada saat "Sang Penari" tayang nanti saya kembali menonton. Oya, saya juga berniat membeli DVDnya kalau sudah dirilis nanti.
Jangan lupa, baca catatan sang sutradara di sini
Anugerah Piala Citra FFI 2011
Film Terbaik 2011
Sutradara Terbaik : Ifa Isfansyah
Pemeran Wanita Terbaik : Prisia Nasution (Srintil)
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik : Dewi Irawan (Nyai Kartaredja)
Nominasi lain :
Eros Eflin untuk Penata Artistik terbaik
Cesa D Luckmansyah untuk Penyunting Gambar terbaik
Yadi Sugandi untuk Penata Sinematografi terbaik
Hendro Djarot untuk Pemeran Pembantu Pria terbaik
Salman Aristo, Shanty Harmayn dan Ifa Isfansyah untuk Skenario Asli terbaik
Oka Antara untuk Pemeran Utama Pria terbaik
...
"Dramatisasi film ini lebih berani dari novel saya. Ini akan jadi dokumentasi visual penting jaman itu. Saya menangis. Saya datang sebagai penonton dan saya terhanyut."
Ahmad Tohari
”Sang Penari, keren. Selamat buat Ifa Isfansah, Salman Aristo. Tentu saja, Sang Penari beda dari novel Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari). Dengan arif, filmnya mengaku “terilhami”. Tapi, semangat novelnya terasa di filmnya: Sang Penari menatap kelahiran Orba dari sebuah dunia dukuh yang miskin. Dalam memandang masa kelam kelahiran Orba itu, Sang Penari setia pd persoalan Srintil-Rasus, dan kampung mereka. Sang Penari sempat juga membuat saya was-was, soal sudut pandang: masihkah pandang PKI sbg hantu, dan ABRI sbg penyelamat? Syukur, tidak.”
Hikmat Darmawan
"Sang Penari, a fresh and loose interpretation of “Ronggeng Dukuh Paruk”. Strong performances and beautiful camera work. All stars were there; but you would not recognize them; they were completely blended into the characters. Oka Antara, Prissy have a very strong chemistry. I was amazed by Dewi Irawan, Tio P and Lukman Sardi 'red man'."
Leila S. Chudori
"Ifa menampilkan erotisme ronggeng tanpa jatuh menjadi vulgar. Geliat indah tubuh Srintil adalah sosok yang menari karena pengabdian pada warga desa, berbeda dari Srintil sehari-hari yang digambarkan tetap sederhana. Pun Ifa memotret proses politik di desa menjelang 1965 tanpa terperosok menjai propaganda dan nyinyir. Dia memenuhi esensi film, bertutur melalui bahasa gambar."
Ninuk Mardiana Pambudy -
"Tubuh Yang Menari" Kompas, 27 Oktober 2011


Jarang2 nih, Mbak Dan, bikin analisis film di blog ini =D
BalasHapusTapi menarik. Mbak Dan detail banget meratiin filmnya. Dea jadi penasaran pengen nonton, deh. Dea udah baca bukunya dan bukunya emang bagus tapi agak-agak menyayat hati ... jieilaaa ...
Great review, Mbak =)
hehe.. aku beberapa kali nulis review film kok :) tagnya 'nonton'. ayo nontooon!
BalasHapuspinjem bukunya dong mbak dan :)
BalasHapusbeli ajaaa. worth kok! :D lagian kalo pinjem, kamu mesti ke bandung.. hehehe
BalasHapusaku udah baca, tapi yang lamaa.... pinjem di perpusda wkt msh di NTT. udh banyak potongan yg lupa.Terima kasih mbak Dan, membaca review yg begitu detail, jd ingat lg, dan bener2 penasaran pengen nonton
BalasHapusdanti, aku sudah menulis :)
BalasHapusBelum nonton filmnya. Gak sempat pas tayang
BalasHapusTapi aku sudah baca novelnya ketika kelas 4 SD. Aku nemu novelnya disembunyikan bapak di lemari. Aku baca sambil sembunyi-sembunyi. Pantaslah bapak menyembunykannya hehe
Hari ini barusan selesai membaca lagi
Salah satu karya sastra Indonesia terbaik yang pernah kubaca
Sangat layak ditonton.. Detail buku jelas ngga bisa semua dipindah ke layar dalam 2 jam. tapi 'rasa'nya dapet :)
Hapus