Koreksi.
Menurut kamus, koreksi yang lahir dari kata correction memiliki arti pembetulan, perbaikan, pemeriksaan. Hasil pekerjaan murid kita periksa untuk tujuan perbaikan.
Lalu, adakah guru yang bebas dari pekerjaan mengoreksi? Sepertinya tidak mungkin :D
Waktu saya sekolah dulu, hasil koreksian adalah coretan guru dengan tinta merah yang menandai benar atau salah. Sudah, hanya sebatas itu. Sekarang, ketika saya mendapatkan pekerjaan mengoreksi, saya tidak melakukan hal yang sama. Menurut saya koreksi bukan saat kita menghakimi siswa benar atau salah dalam menjawab atau menjelaskan soal yang kita berikan. Koreksian juga tidak selalu kita harus memberikan jawaban yang benar atas kesalahan murid.
Untuk pelajaran matematika, walaupun benar atau salah adalah hal yang sangat jelas karena hasilnya eksak, saya jarang memberikan tanda coretan atau silang pada jawaban yang salah. Biasanya jawaban atau bagian perhitungan yang salah saya lingkari atau beri garis dengan tinta yang warnanya berbeda dengan tinta biru atau hitam yang digunakan murid. Dari proses belajar mengajar sehari-hari biasanya kita, para guru, mengetahui karakter anak dengan matematika. Apakah dia kuat di konsep dasar, keterampilan menghitung, atau pada penerapan konsep. Dari hasil pekerjaan murid kita bisa mengetahui logika berpikir sang anak. Dari situlah kita tahu letak kesalahannya, untuk kemudian diberikan umpan balik seperti "coba hitung lagi lebih teliti, ya" atau diberikan pertanyaan pancingan yang membuat murid mengetahui letak kesalahannya sendiri tanpa kita mengatakan bahwa jawabannya salah.
Pada materi lain, terutama yang menyangkut daya nalar anak, saya menggunakan beberapa macam soal untuk mengetahui tingkat pemahaman sedetail mungkin. Ada anak yang kuat pada hafalan, tetapi lemah pada logika. Ada juga yang sebaliknya, kuat pada logika tapi lemah pada hafalan. Dan tentunya ada anak yang kuat pada dua aspek tersebut. Saya sebisa mungkin (dan masih belajar untuk bisa) membuat soal yang mencakup karakter yang berbeda pada anak. Tidak mudah memang, tapi kalau sudah mendapatkan prinsip dasarnya, aku yakin bisa.
Pada soal-soal penilaian materi sains atau terpadu, saya biasa menggunakan soal pertanyaan terbuka (open question) yang jawabannya tidak ada yang salah selain jawaban yang tidak kontekstual. Untuk jawaban esai, Memang membutuhkan waktu yang jauh lebih lama mengoreksi jawaban esai karena banyak hal yang harus kita baca dan kita olah. Idealnya, kita mengoreksi dengan memberikan kalimat respon sesuai dengan jawaban. Apakah jawaban yang mereka berikan itu hebat, perlu perbaikan pemahaman, atau yang lain. Sedapat mungkin saya memberikan pertanyaan pancingan, alih-alih saya berikan jawaban yang benar. Atau mungkin pendapat kita atas jawaban anak tersebut. Untuk yang satu ini, terkadang ingin dilakukan, tapi apa daya terkadang waktunya tidak cukup. Tapi sekali lagi memang tidak mudah dan perlu waktu yang cukup panjang untuk mengerjakan semua, apalagi bila jumlah koreksiannya setumpuk. Untuk itu memang paling mudah memberikan soal pilihan berganda, menjodohkan jawaban, maupun isian karena akan lebih mudah dalam memeriksa dan menandai hasil jawaban.
Apakah saya menggunakan tinta merah ketika mengoreksi? Tentu tidak. Menurut saya tinta merah itu menghakimi. Dan ternyata, benar. Saya membaca sebuah artikel menarik dari buku karangan ST. Kartono, "Menjadi Guru Untuk Muridku". Beliau menceritakan sebuah penelitian bahwa guru sebaiknya tidak menggunakan tinta merah untuk mengoreksi. Dalam buku tersebut beliau menuliskan bahwa hasil penelitian di Australia (2008) mengungkapkan bahwa penggunaan tinta merah cenderung mengarah kepada sifat agresif dan menyerang kelemahan siswa sehingga timbul perasaan tidak berguna. Jadi, jauhkan tinta merah saat mengoreksi, toh sekarang banyak bolpoin atau spidol beraneka warna yang lebih 'ramah'.
Saat mengoreksi saya juga jarang memberikan nilai pada anak-anak. Mengoreksi untuk saya adalah saat mencari data kemampuan anak, bukan saat untuk mencap anak pada anak dengan bilangan. Menurut saya, membahas tingkat ketuntasan pengerjaan di kelas lebih bermanfaat daripada memberikan nilai.
Ya, mengoreksi sering kali menjadi pekerjaan gampang-gampang susah dan membutuhkan kesabaran tinggi. So, make it worth for every single word :)
Lalu, adakah guru yang bebas dari pekerjaan mengoreksi? Sepertinya tidak mungkin :D
Waktu saya sekolah dulu, hasil koreksian adalah coretan guru dengan tinta merah yang menandai benar atau salah. Sudah, hanya sebatas itu. Sekarang, ketika saya mendapatkan pekerjaan mengoreksi, saya tidak melakukan hal yang sama. Menurut saya koreksi bukan saat kita menghakimi siswa benar atau salah dalam menjawab atau menjelaskan soal yang kita berikan. Koreksian juga tidak selalu kita harus memberikan jawaban yang benar atas kesalahan murid.
Untuk pelajaran matematika, walaupun benar atau salah adalah hal yang sangat jelas karena hasilnya eksak, saya jarang memberikan tanda coretan atau silang pada jawaban yang salah. Biasanya jawaban atau bagian perhitungan yang salah saya lingkari atau beri garis dengan tinta yang warnanya berbeda dengan tinta biru atau hitam yang digunakan murid. Dari proses belajar mengajar sehari-hari biasanya kita, para guru, mengetahui karakter anak dengan matematika. Apakah dia kuat di konsep dasar, keterampilan menghitung, atau pada penerapan konsep. Dari hasil pekerjaan murid kita bisa mengetahui logika berpikir sang anak. Dari situlah kita tahu letak kesalahannya, untuk kemudian diberikan umpan balik seperti "coba hitung lagi lebih teliti, ya" atau diberikan pertanyaan pancingan yang membuat murid mengetahui letak kesalahannya sendiri tanpa kita mengatakan bahwa jawabannya salah.
Pada materi lain, terutama yang menyangkut daya nalar anak, saya menggunakan beberapa macam soal untuk mengetahui tingkat pemahaman sedetail mungkin. Ada anak yang kuat pada hafalan, tetapi lemah pada logika. Ada juga yang sebaliknya, kuat pada logika tapi lemah pada hafalan. Dan tentunya ada anak yang kuat pada dua aspek tersebut. Saya sebisa mungkin (dan masih belajar untuk bisa) membuat soal yang mencakup karakter yang berbeda pada anak. Tidak mudah memang, tapi kalau sudah mendapatkan prinsip dasarnya, aku yakin bisa.
Pada soal-soal penilaian materi sains atau terpadu, saya biasa menggunakan soal pertanyaan terbuka (open question) yang jawabannya tidak ada yang salah selain jawaban yang tidak kontekstual. Untuk jawaban esai, Memang membutuhkan waktu yang jauh lebih lama mengoreksi jawaban esai karena banyak hal yang harus kita baca dan kita olah. Idealnya, kita mengoreksi dengan memberikan kalimat respon sesuai dengan jawaban. Apakah jawaban yang mereka berikan itu hebat, perlu perbaikan pemahaman, atau yang lain. Sedapat mungkin saya memberikan pertanyaan pancingan, alih-alih saya berikan jawaban yang benar. Atau mungkin pendapat kita atas jawaban anak tersebut. Untuk yang satu ini, terkadang ingin dilakukan, tapi apa daya terkadang waktunya tidak cukup. Tapi sekali lagi memang tidak mudah dan perlu waktu yang cukup panjang untuk mengerjakan semua, apalagi bila jumlah koreksiannya setumpuk. Untuk itu memang paling mudah memberikan soal pilihan berganda, menjodohkan jawaban, maupun isian karena akan lebih mudah dalam memeriksa dan menandai hasil jawaban.
Apakah saya menggunakan tinta merah ketika mengoreksi? Tentu tidak. Menurut saya tinta merah itu menghakimi. Dan ternyata, benar. Saya membaca sebuah artikel menarik dari buku karangan ST. Kartono, "Menjadi Guru Untuk Muridku". Beliau menceritakan sebuah penelitian bahwa guru sebaiknya tidak menggunakan tinta merah untuk mengoreksi. Dalam buku tersebut beliau menuliskan bahwa hasil penelitian di Australia (2008) mengungkapkan bahwa penggunaan tinta merah cenderung mengarah kepada sifat agresif dan menyerang kelemahan siswa sehingga timbul perasaan tidak berguna. Jadi, jauhkan tinta merah saat mengoreksi, toh sekarang banyak bolpoin atau spidol beraneka warna yang lebih 'ramah'.
Saat mengoreksi saya juga jarang memberikan nilai pada anak-anak. Mengoreksi untuk saya adalah saat mencari data kemampuan anak, bukan saat untuk mencap anak pada anak dengan bilangan. Menurut saya, membahas tingkat ketuntasan pengerjaan di kelas lebih bermanfaat daripada memberikan nilai.
Ya, mengoreksi sering kali menjadi pekerjaan gampang-gampang susah dan membutuhkan kesabaran tinggi. So, make it worth for every single word :)

"...Menurut saya tinta merah itu menghakimi..."
BalasHapus*..s..e...t..u...j...u...!!
"...Saat mengoreksi saya juga jarang memberikan nilai pada anak-anak..."
*Jika siswa banyak melakukan kekeliruan, saya juga tidak memberikan nilai, tetapi jika banyak bagusnya, nilai saya berikan. karena jika tidak diberikan mereka protes.... he he he...
Nice posting Ardanti... I like your style...
Salam Pendidikan