tanda semesta, untuk kita?
:: nugrahaarief
nugrahaarief: aku bosan menyiangi angin atau menyibak dedaunan. boleh kita hidup tanpa tanda tanya?
mbakdan: s'ribu tanya lebih baik dari titik. bisik angin dan dedaun selalu mengukir lengkung di titikku, mempertanyakanmu.
nugrahaarief: buatlah aku tak jerih, jika stiap malam semisal tanda yang terus bertanya tentangmu. aku mencarimu pada tanya yang tak pernah terjawab, tak usai.
mbakdan: kukirim kau sebentuk koma, jika kauingin menjeda sejenak. dan semesta, tak pernah memberiku titik untukmu.
nugrahaarief: koma menjeda makna, memenggal maksud. dan titik? haruskan berakhir sebelum kutemukan jawaban darimu? Sungguh, jangan beri aku titik.
mbakdan: kita rangkai sebentuk huruf di antaranya. menjadi bait nafas yang menapaki kaki langit. menjadi garis untuk lirik rindu.
nugrahaarief: begitulah huruf membebat jarak yang angkuh. berpuluh sajak tak berdaya merapal rindu, dengannya, ia menyelinap di selasela jemari.
mbakdan: lalu titik kita? menguap di atas tengadah tangan, langit menukarnya menjadi rona kata yang disalin dari lengkung pelangi.
nugrahaarief: dan kita t'lah paham, kata melukiskan pelangi itu di bening rindu yang kian mengadu.
.
nugrahaarief: aku bosan menyiangi angin atau menyibak dedaunan. boleh kita hidup tanpa tanda tanya?
mbakdan: s'ribu tanya lebih baik dari titik. bisik angin dan dedaun selalu mengukir lengkung di titikku, mempertanyakanmu.
nugrahaarief: buatlah aku tak jerih, jika stiap malam semisal tanda yang terus bertanya tentangmu. aku mencarimu pada tanya yang tak pernah terjawab, tak usai.
mbakdan: kukirim kau sebentuk koma, jika kauingin menjeda sejenak. dan semesta, tak pernah memberiku titik untukmu.
nugrahaarief: koma menjeda makna, memenggal maksud. dan titik? haruskan berakhir sebelum kutemukan jawaban darimu? Sungguh, jangan beri aku titik.
mbakdan: kita rangkai sebentuk huruf di antaranya. menjadi bait nafas yang menapaki kaki langit. menjadi garis untuk lirik rindu.
nugrahaarief: begitulah huruf membebat jarak yang angkuh. berpuluh sajak tak berdaya merapal rindu, dengannya, ia menyelinap di selasela jemari.
mbakdan: lalu titik kita? menguap di atas tengadah tangan, langit menukarnya menjadi rona kata yang disalin dari lengkung pelangi.
nugrahaarief: dan kita t'lah paham, kata melukiskan pelangi itu di bening rindu yang kian mengadu.
.

luar biasa :)
BalasHapus