tribute to Sultan HB IX

*cuma ‘sampah otak’ …:)

Ada yang menarik perhatianku dari Opini di Kompas (Selasa, 7 Oktober 2008). Sebuah tulisan dari Daoed Joesoef, pejuang yang pernah juga menjabat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III (1978-1983), dan pernah mengenyam pendidikan di Universire Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne.

Tulisan yang mengungkapkan kesaksian pribadinya terhadap Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan RI. Tulisan yang menarik, bisa memberikan pandangan baru ditengah-tengah perdebatan panjang soal status DIY, yang sampai sekarang masih menjadi kesultanan. Menurut aku sih, bentuk kesultanan ini cukup penting untuk dipertahankan dengan berbagai macam pertimbangan, tapi yang mau aku bagi di sini bukanlah perdebatan tentang kesultanan atau status sultan sebagai gubernur. Bukan. Yang mau aku bagi ini adalah sosok Sultan HB IX sebagai sosok pemimpin yang kiranya sulit ditemui sekarang.

Sultan HB IX adalah sultan pertama yang mendukung proklamasi RI. Walaupun beliau berkuasa atas Kesultanan Yogya, ngga sedikitpun terpikir membentuk Negara baru dan melepaskan diri dari RI. Juga ketika ada utusan Belanda yang ingin menghadap di keraton, Sultan ngga ngijinin Belanda menginjakkan kaki di keraton, dan beliau ngga mau berkompromi apapun dengan pihak Belanda. Coba saja kalau dibandingin sama pemerintah sekarang, kompromistis sama pihak luar dengan mudahnya.

Oke, tentu saja keadaan saat ini sangat berbeda dengan keadaan dulu. Tapi dari sifat kompromistis itu, justru banyak kesepakatan yang merugikan rakyat. Liat aja, Negara kita kaya Negara yang kerampokan di siang bolong, tanpa perlawanan. Dan para penguasa sepertinya ngga punya hati untuk melihat potret kehidupan dari masyarakat kelas bawah yang jumlahnya berlipat-lipat kali lebih banyak dari mereka yang mampu bertahan hidup berkecukupan. Sultan punya harga diri dan keberanian untuk melindungi rakyatnya, bahkan dengan nyawa sekalipun.

Saat ngga bisa lagi tinggal di Yogya, Bapak Daoed pada masa itu menyelamatkan diri ke Salatiga. Dan sepanjang perjalanan penduduk selalu menanyakan keadaan Sultan. Begitu cintanya rakyat pada pemimpinnya, hingga mereka mencemaskan keselamatan Sultan. Kalo sekarang sepertinya saking apatisnya masyarakat sama pemerintah, boro-boro menanyakan keselamatan, yang ada malah kapan pemimpinnya diganti, atau ‘mengutuk-ngutuk’ pemimpin karena kebijakan yang semakin menyengsarakan.

Sultan yang memiliki jiwa senasib sepenanggungan dengan rakyatnya memperbolehkan sebagaian keraton unuk dipergunakan demi kepentingan warga, termasuk bagian siti hinggil yang digunakan untuk pendidikan. Pagi untuk SMA, sorenya untuk kuliah mahasiswa UGM. Sikap Sultan yang seperti itu membuat rakyat Yogya ngga pernah mengeluh kalau harus berbagi walaupun keadaannya juga ngga baik. Berbagi makanan, fasilitas umum dan ruang, sama-sama menderita, dilakukan warga Yogya karena teladan pemimpinnya. Sekarang, ada ngga ya yang seperti itu?



Kalaupun ada, ngga sebanding dengan jumlah pemimpin lain yang semena-mena, dan ngga sebanding dengan ratusan juta rakyat Indonesia yang berjuang dan tiap hari bertanya pada mereka sendiri, ‘hari ini makan apa ya?’. Ada potret lain kebersahajaan Sultan HB IX. Diceritakan saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan ketika itu keadaan Negara sedang kacau, berulang kali Sultan pulang pergi Jakarta-Yogya menyetir mobil sendiri, tanpa kawalan ajudan maupun voorrijder. Dan dalam salah satu perjalanan beliau memboncengkan perempuan tua yang kepayahan menggendong dagangannya sampai depan Pasar Beringharjo.

Sekembalinya Bapak Daoed dari sekolah di Perancis, beliau diundang untuk bertemu Bung Hatta dan Sultan HB IX (yang saat itu menjabat wakil Presiden). Mereka menayakan visi Pak Daoed mengenai konsep pendidikan nasional, konsep pengembangan idealisme, membentuk manusia idealis. Bagi Sultan, bangsa kita memerlukan banyak calom pemimpin yang idealis, justru karena kekayaan yang seakan ngga abis-abis. Sekarang sih udah hampir habis ya?!?! Memerintah kota seukuran Bandung aja, pohon-pohon dibabat demi tegaknya sebuah mall. Bikin tata kota aja ngga bener.

Dengan sikap seperti itu, ngga heran kalau sampai sekarang Sultan HB IX dikenang, dan disegani bukan hanya oleh masyarakat Yogya, tapi oleh masyarakat Indonesia sebagai sosok pemimpin. Seorang sosok pemimpin yang sudah jarang ditemui saat ini. Sosok pemimpin yang dirindukan masyarakat sekarang.

Ya Allah, mudah-mudahan Engkau menyadarkan para pemimpin kami,
mengampuni para pemimpin kami.
Berikanlah kami pemimpin yang amanah,
yang bisa menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran,

amiiinnn…



Tribute to Sultan HB IX, yang benar-benar seorang pemimpin (kalau seandainya Sultan HB IX masih ada, gimana ya melihat keadaan Indonesia sekarang?)

Komentar

Postingan Populer