petisi untuk Tuhan.

Dari novel yang aku baca (“Eat, Pray, Love” by Elizabeth Gilbert) ada satu bagian yang menarik. Petisi untuk Tuhan. Semacam doa, permohonan atas apa yang kita inginkan. Dari permohonan itu, kita membayangkan siapa saja dari orang-orang yang ada di sekitar kita yang kira-kira akan mengamini, mendukung permohonan atau impian kita itu. Ngga perlu juga kita mengatakan langsung apa keinginan kita pada orang yang akan memberikan suara di petisi. Cukup keyakinan siapa saja yang akan sepenuhnya mendukung kita. Saat kita yakin mereka mendukung keinginan kita, maka tercantum pulalah ‘tanda tangan’ atas petisi itu. Bedanya dengan petisi biasa, kita ngga perlu kertas dan alat tulis untuk mengumpulkan tanda tangan. Hehe, lucu juga.
Cerita ini mengingatkan aku sama satu hal yang sedang aku alamin. Ada satu keinginan besar yang ingin aku wujudkan, dan impian itu didukung teman-teman, sahabat, kerabat di sekitarku. Mereka mendukung, mendoakan, dan mengamini impian itu. Ow, rasanya seperti membawa satu keranjang atau kotak besar yang harus aku penuhi, tapi karena yang mengisi kotak itu banyak orang, aku tidak kesulitan untuk membuatnya berisi. Suntikan energi yang besar jadi bahan bakar untuk maju mewujudkan mimpi itu.
Doa, dukungan dalam bentuk apapun itu, kayanya memang bener kalau dianalogikan dengan petisi untuk Tuhan. Tetap saja Tuhan yang punya kekuasaan untuk mengabulkan keinginanku. Toh, manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Satu yang aku ngga boleh lengah memang, ikhtiar harus tuntas dijalankan sampai ujung. Doa diujung usaha. Ngga bisa berenti di tengah jalan. Tanpa usaha, jangan berharap banyak. Dengan bantuan ‘tanda tangan’ petisi untuk Tuhan, aku berjalan hingga ujung jalan ‘usaha’.
Sahabat, teman, siapa pun juga (yang mungkin kadang kita ngga tau siapa yang mendoakan kita), terima kasih atas 'tanda tangan'nya di petisiku.. apapun keinginanku itu.. ☺

Komentar
Posting Komentar
tinggalkan jejak dengan menuliskan opini..