terima kasih pak walikota.



Saat ini, aku sedang berada di sebuah tempat yang super cozy, terutama kalau hujan. Tempat yang homy, dengan lagu smooth jazz sebagai teman setia (terima kasih karena dengan demikian laptop aku tidak perlu bekerja keras memperdengarkan lagu-lagu yang aku suka ) dan aroma kopi yang menyempurnakan atmosfer. Perfecto!!! Oke, ini di dalam ruangan. Di sebelah ada sebuah jendela super besar, hmmm..dinding jendela kali ya, yang mempertontonkan ruang luar yang tengah diguyur hujan. Orang-orang yang mencari tempat berteduh karena hujan sulit ditembus kecuali dengan kendaraan tertutup beroda empat.

Kenyamanan di ruang dalam yang aku dapat sekarang ironis dengan keadaan luar, apalagi kalau melihat kondisi jalan. Belum setengah jam hujan, tapi jalanan sudah banjir. Bukan karena hujannya yang terlalu besar, tapi karena air yang lelah melalui perjalanan jauh dari berbagai macam tempat dan sempat berhenti di terminal bernama awan itu, tidak tahu lagi harus kemana. Ngga ada saluran drainase yang memadai untuk berjalan kembali, jadilah air hujan itu berdesak-desakan dengan kendaraan di tempat yang sama. Kalau selamat, mereka akan sampai ke tempat lain yang lebih layak untuk mahluk bernama air, kalau tidak, roda-roda kendaraan akan menyepak mereka, bahkan hingga bertumbukan dengan badan-badan manusia yang berteduh di pinggir jalan.

Terima kasih banyak pak walikota, untuk kota yang semakin hancur. Aku cuma berharap, Bapak Walikota terhormat merasakan sulitnya mencari tempat berteduh di tengah hujan seperti ini. Berdesak-desakan mencari kenyamanan yang sulit didapat karena tempat berteduh terlalu sempit untuk menampung orang-orang yang tidak mampu membeli kendaraan roda empat yang nyaman. Juga orang-orang yang sebelumnya semangat berjalan kaki dan naik sepeda demi mengurangi polusi (atau karena tidak memiliki uang yang cukup untuk menggunakan angkutan), yang hingga kini masih belum terfasilitasi.

Sekali lagi, terima kasih Pak Walikota, untuk kehancuran kota ini. Semoga Bapak mendapatkan balasan yang berlipat dengan ‘kebijakan-kebijakan’ Bapak.

Komentar

Postingan Populer